KONSEP BUDAYA ORGANISASI SECARA ISLAMI

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A.      Latar Belakang

Pengaruh budaya organisasi terhadap prilaku organisasi amat signifikan. Karena itu menciptakan budaya organisasi yang sifatnya unik untuk setiap organisasi amatlah penting. Untuk itu perlu dipahami apa budaya organisasi itu. Budaya organisasi sebagai perangkat lunak dalam suatu lembaga mempunyai peranan penting, karena diharapkan lembaga tersebut dapat bersifat lentur dan fleksibel.

Dalam realitasnya, setiap organisasi ataupun perusahaan memiliki budaya organisasi (culture organizational). Budaya organisasi tersebut sebagai corak ataupun karakteristik aspek nilai khas (specific values) yang dilembagakan oleh organisasi. Disebabkan sebagai nilai yang khas, maka budaya organisasi dalam tataran teknis akan sangat bervariasi sesuai keberadaan organisasi atau perusahaan itu sendiri.

Melalui adanya pendidikan budaya organisasi dapat diterapkan dengan baik oleh pelaku-pelaku organisasi. Pengertian pendidikan di sini adalah sebuah proses pembudayaan yang berusaha untuk mengembangkan serta mengintegrasikan potensi dan nilai-nilai kemanusiaan pada diri individu, agar menjadi pribadi yang mampu secara internal mempersiapkan dirinya dan secra eksternal mampu merespon dan berkomunikasi dengan dunianya. Budaya organisasi sebagai perangkat lunak dalam suatu lembaga mempunyai peranan penting, karena diharapkan lembaga tersebut dapat bersifat dan besikap lentur dan fleksibel. Sebagaimana budaya yang tidak akan pernah mengalami kemunduran dan akan menjadi sangat sempurna jika dipadu dengan agama yang bersumber pada wahyu illahi. Tidak sedikit yang mengatakan bahwa agama termasuk dalam lingkup kebudayaan, itupun jika umat beragama mampu mengaplikasikan ajaran-ajaran agama dalam kehidupan budayanya.

 

  1. B.       Rumusan Masalah

Berdasarkan kepada uraian latar belakang, konsep yang di terapkan dalam tubuh organisasi akan berpengaruh terhadap budaya yang ada dalam organisasi tersebut. Pada dewasa ini banyak organisasi yang berkecimpung dalam tatanan aspek kehidupan manusia.

Indonesia merupakan penduduk dengan mayoritas muslim, hal tersebut berpengaruh juga terhadap kondisi organisasi yang ada, organisasi ke- islaman pun berjalan cepat dan tersebar jumlahnya, tetapi sejatinya masyarakat tidak terlalu banyak yang mengetahui bagaimana konsep yang ada di dalamnya. Berdasarkan hal tersebut di ambil rumusan sebagai berikut:

  1. Bagaimana konsep budaya organisasi secara Islami?
  2. Bagaimana Model organisasi secara Islami?
  3. Apa nilai – nilai yang terkandung dalam orgnisasi secara Islami?

 

  1. C.      Maksud dan Tujuan Penulisan

Maksud Penulisan makalah,sebagai berikut :

  1. Sebagai pemenuhan tugas mata kuliah Etika Bisnis
  2. Menjelaskan secara terperinci mengenai konsep budaya organisasi secara islami
  3. Menjelaskan perbedaan mendasar antara organisasi islami dengan organisasi umum pada kondisi hari ini..

Tujuan penulisan makalah, sebagai berikut :

  1. Mendeskripsikan konsep budaya organisasi secara islami
  2. Mendeskripsikan model organisasi secara islami
  3. Mendeskripsikan nilai – nilai yang terkandung dalam budaya organisasi secara Islami.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

LANDASAN TEORI

 

  1. A.      Pengertian Organisasi

Menurut ERNEST DALE:

Organisasi adalah suatu proses perencanaan yang meliputi penyusunan, pengembangan, dan pemeliharaan suatu  struktur atau pola hubunngan kerja dari orang-orang dalam suatu kerja kelompok.

Menurut CYRIL SOFFER:

Organisasi adalah perserikatan orang-orang yang masing-masing diberi peran tertentu dalam suatu system kerja dan pembagian dalam mana pekerjaan itu diperinci menjadi tugas-tugas, dibagikan kemudian digabung lagi dalam beberapa bentuk hasil.

Menurut KAST & ROSENZWEIG:

Organisasi adalah sub system teknik, sub system structural, sub system pshikososial dan sub system manajerial dari lingkungan yang lebih luas dimana ada kumpulan orang-orang berorenteasi pada tujuan.

Definisi UMUM:

“ Kelompok orang yang secara bersama-sama berada dalam suatu wadah yang mempunyai pemikiran yang sama dan  mempunyai tujuan yang sama ”

  1. B.       Pengertian Budaya Organisasi

Dalam berjalannya organisasi terdapat sebuah sistem yang tidak dapat diraba (intangible), namun keberadaanya menjadi ruh organisasi itu sendiri.Berikut adalah pengertian budaya:

  1. Pengertian budaya itu sendiri dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Sansekerta budayah,  yang terbentuk dari budi atau akal.
  2. Secara harfiah, pengertian budaya oleh banyak kalangan diterjemahkan sebagai hasil cipta, rasa dan karsa manusia yang terbatas untuk kebutuhan seni.
  3. Namun demikian, Prof. Dr. Suwarto, MS dalam bukunya Budaya Organisasi mendefinisikan budaya sebagai keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk memahami lingkungan  serta pengalamanya dan menjadi pedoman tingkah lakunya.

Selanjutnya, Dr. Suwarto, MS menyampaikan definisi-definisi budaya organisasi dalam persepsi sejumlah ahli sebagai berikut.

  1. Suatu sistem makna bersama/persepsi yang dianut oleh anggota-anggota organisasi (Robbins, 2005).
  2. Sejumlah pemahaman penting seperti norma, nilai, sikap, dan keyakinan  yang dimiliki bersama oleh anggota organisasi (Stoner, 1995).
  3. Pola asumsi dasar bentukan, temuan, atau pengembangan kelompok yang bekerja cukup baik dalam mengatasi masalah sehingga perlu diajarkan kepada anggota baru (Schein, 1991, Luthans, 1998).
  4. Pemprograman mental efektif (Hofstede, 1983).
  5. Pandangan hidup dalam organisasi (Hatch, 1997).
  6. Berkaitan dengan makna bersama, nilai, sikap dan keyakinan, kebiasaan dan pengharapan dari keseluruhan anggota organisasi (Nicholson, 1997, Juechter, 1998).

Dari sejumlah batasan definitif tersebut dapat ditarik pemahaman bahwa terdapat tiga tingkatan budaya organisasi.

  1. Pertama, artefak. Yakni hal yang dapat dilihat, didengar, dan dirasa (produk, jasa dan tingkah laku).
  2. Kedua, nilai-nilai. Adalah sesuatu yang dipegang teguh yang karenanya anggota organisasi siap berkorban demi suatu tujuan.
  3. Ketiga, asumsi dasar. Yakni keyakinan yang sudah dianggap oleh anggota.

Ketika seperti itu maka budaya organisasi sebenarnya tertitik fokus kepada bagaimana nilai kebersamaan yang dibentuk oleh organisasi perusahaan sebagai pedoman berperilaku seluruh masyarakat perusahaan yang bersangkutan.Sementara itu, esensi dari suatu budaya organisasi perusahaan setidaknya ada empat hal yaitu sebagai berikut:

  1. Bagaimana organisasi dapat melaksanakan bisnis secara terpadu dan maksimal – sinergisme dalam sistem dan values.
  2. Bagaimana suatu pihak manajemen memperlakukan karyawan atau pelanggan dengan pelayanan yang optimal.
  3. Sejauh mana terjadi kebebasan pada sub-sistem dengan tetap mengacu pada aspek tata nilai perusahaan.
  4. Tingkat loyalitas karyawan pada perusahaan sesuai dengan nilai yang dibentuk atau terbentuk dalam perusahaan tersebut.

 

  1. C.      Keutamaan Konsep Budaya Organisasi

Dengan mengacu sejumlah definisi tentang budaya organisasi oleh para ahli di atas maka peran budaya organisasi sangat urgen. Bahkan organisasi tidak berjalan jika tidak terbentuk suatu budaya kerja dan kinerja organisasi. Dalam pandangan Weber terdapat istilah anomi yang menggambarkan masyarakat tidak memiliki nilai kebersamaan yang komprehensif sehingga sistem sosial menjadi amburadul.

Budaya organisasi tumbuh dan berkembang sejalan dengan awal kelahiran sistem organisasi itu sendiri. Jika ketika awal organisasi lahir yang masih dengan masa krisis, maka budaya organisasi pada umumnya masih pada fase tersbut yang penuh dengan krisis. Namun demikian jika seiring dengan organisasi yang sudah dapat berjalan stabil maka budaya organisasi akan mengikutinya kondisinya yakni juga dalam keadaan stabil. Dan, jika dalam usia yang cukup dewasa namun organisasi masih mengalami masalah maka budaya organisasi pada umumnya juga mengalami dinamika resesi.

Jika mengacu dari pandangan Dr. HC. Ary Ginanjar sebagai instruktur Training ESQ (Emotional Spiritual Quotion), bahwa budaya organisasi dapat digambarkan sebagai unsur sistem emosi dan spiritual yang muncul dalam sebuah tata nilai  melengkapi sistem perusahaan secara umum. Keberadaan tersebut menjadi ruh di tengah bangunan sistem organisasi yang mengharuskan adanya aspek fisikal dan kecerdasan kuantitatif berupa IQ (intelligence Quotience).

Jadi mengapa terbangun budaya suatu organisasi adalah tidak lain sebagai ruh tata nilai, baik berupa unsur moral, etika, sikap, emosional, dan spiritual. Aspek-aspek budaya organisasi tersebut kiranya menjadi penggerak dimensi fisik dan inteligensi kuantitatif. Adapaun inteligensi kuantitatif dalam konteks perusahaan ini antara lain berupa:

  1. Program kerja adalah aktivitas yang menggambarkan di muka bagian
    mengenai pekerjaan yang akan dilaksanakan berikut petunjuk-petunjuk mengenai cara pelaksanaannya. Hal ini juga mengyakut jangka waktu, penggunaan material dan peralatan yang diperlukan, pembagian wewenang dan tanggung jawab. Program kerja bersifat menyeluruh atau menggarap semua fungsi dari sebuah organisasi yang harus didayagunakan oleh organisasi untuk meningkatkan kinerja organisasi tersebut.
  2. Panduan kerja adalahsebuah petunjuk atau aturan yang dikeluarkan secara resmi oleh perusahaan yang berisikan pelaksanaan dalam bekerja di perusahaan itu. Mulai dari jam masuk kerja, jam istirahat, hari libur, pemberian cuti, pemberian ijin, dsb.
    Aturan kerja lebih menekankan pada kepatuhan pegawai dalam mentaati peraturan kerja di suatu perusahaan. yang telah ditetapkan. Dalam aturan kerja ini juga dimuat larangan, sanksi, dsb. yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
  3. Standard Operastional Procedure (SOP) adalah suatu standar tertulis yang ditetapkan dan diberlakukan oleh suatu lembaga untuk jangka waktu tertentu, yang ditujukan untuk terciptanya suatu organisasi yang efektif, efisien, akuntabel, transparan dan terpercaya dalam menjalankan program-program yang telah tersahkan atau yang belum tersahkan.
  4. Jobs Instruction adalah usaha yang dilakukan organisasi untuk meningkatkan kemampuan teknis, teoritis, konseptual dan moral karyawan, sesuai dengan kebutuhan jabatan atau pekerjaan melalui pelatihan.
  5. Standar Manajemen Mutu
  6. Target dan Sasaran Mutu
  7. Manajemen keuangan
  8. Akuntansi.

 

  1. D.      Manfaat Budaya Organisasi

Budaya organisasi memiliki manfaat yang sangat strategis dalam sebuah organisasi ataupun perusahaan. Budaya organisasi yang baik dan mapan akan berdampak sangat positif terhadap kehidupan sebuah organisasi dan perusahaan. Bahkan tidak hanya sekedar bermanfaat secara materiil namun juga memiliki dampak spiritual dan kebarokahan.

Dalam buku Manajemen Syariah dalam Praktek yang ditulis oleh Prof. Dr. Didin Hafidhuddin dan Hendri Tanjung S.Si. MM. menguraikan bab khusus hubungan budaya kerja dan profesionalisme. Dikatakan bahwa jika seorang muslim bekerja dengan mencurahkan kemampuanya secara tekun dan optimal maka akan berdampak positif terhadap nilai profesionalisme. Disebutkan bahwa makna profesionalisme bukan terdefinisikan dari tingginya suatu gaji yang diterima.

Justru profesionalisme adalah bekerja dengan maksimal serta penuh komitmen dan kesungguhan. Gaji atau bayaran yang tinggi yang diperoleh oleh seseorang merupakan akibat dari pekerjaan yang dilakukan dengan kesungguhan, optimal dan tidak asal-asalan. Sifat profesionalisme ini digambarkan dalam Al Qur’an surat al Isra ayat 84 : Katakanlah: “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya[867] masing-masing”. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya. [867]  termasuk dalam pengertian keadaan disini ialah tabiat dan pengaruh alam sekitarnya.

Pada ayat di atas, dikemukakan bahwa bahwa setiap orang beramal dan berbuat sesuai dengan kemampuanya. Artinya, seseorang harus bekerja dengan penuh ketekunan dengan mencurahkan seluruh keahlianya. Jika seseorang bekerja sesuai dengan kemampuanya, maka akan melahirkan hal-hal yang optimal.

Profesionalisme akan dapat dibangun jika tercipta budaya organisasi yang kondusif. Secara fakta dapat dibuktikan adanya  korelasi yang sangat kuat positif antara budaya kerja yang optimal dengan profesionalisme. Dimana semakin bagus budaya suatu organisasi maka tingkat profesionalisme Sumber Daya Manusia semakin bagus. Namun demikian, dapat diyakinkan bahwa jika kondisi budaya kerja yang buruk maka tingkat profesionalisme akan semakin menurun. Jadi profesionalisme akan sangat tergantung pada budaya kerja, sedang budaya kerja tergantung juga pada kondisi dalam suatu organisasi atau perusahaan.

Secara spesifik, Islam memerintahkan pada umatnya untuk memelihara budaya kerja. Banyak sekali ayat ataupun al hadits yang menyampaikan keharusan berbudaya kerja. Misalnya ketika mengambil pada Al Qur’an surat Al Mukmin tampak sangat terang benderang bagaimana digambarkan sifat-sifat kaum mukmin yang produktif dalam berkarya dan berbudaya kerja. Diantara surat tersebut adalah ayat 3 dan 8 sebagai berikut : Artinya:  Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan yang tiada berguna;  Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.

Jadi orang yang mukmin, dia digambarkan senantiasa mengisi waktu hidupnya secara produktif, kapanpun dan dimanapun mereka berada. Demikian halnya ketika di lingkungan sustu pekerjaan maka mereka diperintahkan untuk selalu berfikir dan beraktivitas secara produktif. Dengan cara demikian maka akan menjamin suatu target kerja dan kinerja (produktivitas) akan dijamin mencapai tujuan. Dengan cara berfikir demikian maka SDM yang bersikap malas, acuh, cuek dsb. dalam Islam justru dinilai kontraproduktif dan menciptakan organisasi dan perusahaan yang tidak berbudaya.

Demikian halnya, karyawan yang memelihara dan menjalankan amanah yang telah disanggupi dipikulnya merupakan bagian dari sebuah budaya kerja produktif. Hal ini sangat beralasan, sebab jika dicermati banyak target pekerjaan yang tidak tercapai disebabkan para karyawan tidak amanah. Berapa banyak jobs instruction ataupun juga Standard Operational Product (SOP) yang tidak dijalankan sama sekali atau dijalankan tidak optimal sehingga berdampak pada terhambatnya kinerja. Inilah kiranya budaya organisasi sangat memiliki manfaat yang demikian besar dalam sebuah organisasi ataupun perusahaan.

  1. E.     Faktor Pembentuk Budaya Organisasi

Secara terminologi kata budaya (culture) berasal dari kata Latin colore, yang berarti mengerjakan tanah, mengolah, memelihara lading namun pengertian yang semula agraris ini lebih lanjut diterapkan dalam hal-hal yang bersifat rohani dan ada juga yang mengartikannya sebagai way of life, yaitu cara hidup tertentu yang memancarkan identitas tertentu suatu bangsa. Sedangkan Koentjaraningrat mengartikan budaya adalah “keseluruhan system gagasan tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan cara belajar”. Selanjutnya Koentjaranigrat mengatakan bahwa kebudayaan memiliki tiga wujud yaitu:

  1. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleksitas dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya.
  2. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleksitas aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat.
  3. Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.

Selanjutnya organisasi adalah kesatuan (entity) yang dikordinasikan secara sadar, dengan sebuah batasan yang relative dapat diidentifikasikan dan bekerja terus menerus untuk mencapai tujuanbersama atau sekelompok tujuan. Jadi pengertian organisasi ada dua yaitu pertama, organisasi sebagai wadah atau tempat, dan kedua, pengertian organisasi sebagai proses yang dilakukan bersama –sama, dengan landasan yang sama, tujuan yang sama, dan juga dengan cara yang sama.

Sedangkan kata Islam berasal dari kata Arab “salima” yang berarti selamat sentosa. Sebab itu orang yang melakukan aslama dinamakan muslim. Sedangkan arti Islam secara istilah dapat dirumuskan sebagai “Agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW ialah apa yang diturunkan Allah SWT di dalam Al-Quran dan yang tersebut dalam sunah yang shahih berupa perintah-perintah dan larangan-larangan dan petunjuk-petunjuk untuk kesejahteraan dan kebahagiaan hidup manusia di dunia dan akhirat”.

Unsur-unsur yang dapat dijadikan landasan bagi terbentunya budaya organisasi. Unsur-unsur tersebut antara lain :

  1. a.      Pendirian

Pendirian bersifat abstrak. Ia terlihat melalui sikap. Pendirian dapat diukur berdasarkan keteguhan atau kekuatannya teguh sampai kepada goyah. Sikap diukur dengan tolak positive, negative, tetap atau berubah. Pemberian bersifat given dan indigeneus. Baginya berubah berarti mati. Kalau sikap seseorang berubah, maka perubahan itu tidak bersumber dari pendirian melainkan dari factor exsternal.

  1. b.      Sikap

Sikap adalah kecenderungan jiwa terhadap sesuatu. Ia menunjukan arah, potensi dan dorongan menunju sesuatu itu.

  1. c.       Perilaku

Perilaku adalah operasionalisasi dari aktualisasi sikap seseorang atau sekelompok dalam atau terhadap suatu (situasi dan kondisi) lingkungan (masyarakat, alam, tekhnologi, atau organisasi) yang kemudian diperagakan. Supaya perilaku dapat diamati dan direkam.

Faktor-faktor yang mendukung dalam membentuk budaya organisasi yang Islami antara lain :

  1. a.      Organisasi

Diperlukan suatu struktur organisasi yang mampu menjamin penerapan budaya yang Islami didalam organisasi yang terdiri dari :

 

 

Pertama          :penanggung jawab program

Kedua             :sebagai tim pengarah yang terdiri dari pimpinan lapisan kedua atau sesuai dengan kondisi,

Ketiga              : tim fasilitator yang terdiri dari unsure pimpinan atau orang lain yang mampu dan berminat besar untuk melakukan tugas tersebut,

Keempa           : kelompok budaya yang terdiri dari karyawan langsung terkait dalam status pekerjaan dalam arti bias satu jenis pekerjaan, satu naungan koordinasi dan lain sebagainya.

 

  1. b.      Komitmen pimpinan tertinggi

Salah satu kunci keberhasilan dari program ini adalah adanya komitmen langsung dari pimpinan puncak yang di implementasikan baik melalui sikap dan perilaku sehari-hari. Pimpinan harus memberikan contoh dan suri tauladan kepada bawahannya dan berupaya terus menerus untuk menjadikannya sebagai upaya pembentukan budaya yang baik.

  1. c.       Komunikasi

Dalam melaksanakan program ini keterampilan komunikasi merupakan factor penting dalam upaya menciptakan lingkungan yang kondusif  agar nilai-nilai luhur dapat teraktualisai dalam sikap dan perilaku organisasi. Keberhasilan program berdasar pada tingkat kepercayaan dalam interaksi individu yang terkait, sehingga tempat tingkat kepercayaan itu pada kualitas kerjasama. Makin tinggi tingkat kepercayaan, makin baik kualitas kepercayaanya makin baik kualitas kerjasamanya. Kondisi semacam ini harus semakin dapat terwujud agar tingkat sinergi bias tercapai, sehingga hasil (out-put) program menjadi semakin berkualitas.

  1. d.      Motivasi

Motivasi merupakan salah satu komponen penting dalam raih kesuksesan suatu proses kerja, karena memiliki unsure pendorong untuk melakukan pekerjaannya sendiri maupun kelompok. Suatu dorongan dapat berasal dari dalam diri sendiri, yaitu berupa kesadaran diri untuk bekerja lebih baik atau memberikan memberikan yang terbaik bagi kelompok dengan berbagai macam alasan yang baik dan luhur. Akan tetapi tidak semua orang mempunyai dorongan yang positive dengan mudah adakalanya mereka membutuhkan orang lain yang berperan sebagai motivator.

  1. e.       Lingkungan Kerja

Lingkungan kerja kondusif dapat mendukung terciptanya budaya organisasi yang baik seperti, tantangan, keterlibatan, dan kesungguhan, kebebasan mengambilan keputusan, tersediannya waktu untuk ide-ide baru, tinggi redahnya tingkat komflik, keterlibatan dalamtukar pendapat, suasana yang santai, tigkat saling percaya dan keterbukaan. Dengan dimensi lingkungan kerja seperti tersebut diatas member peluang semua unsure manajement dapat berfungsi seperti yang diharapkan.

Konflik yang terjadi dilingkungan kerja kerap kali berpengaruh besar terhadap kinerja sebuah perusahaan, baik konflik antara exsekutif dan pekerja, pemegang saham dan exsecutive, atau antar pekerja. Untuk itu perlu dikenali hal-hal yang mempengaruhi keputusn seseorang yang terlibat dalam konflik tersebut.

Pertama,konteks. Artinya konteks situasi yang mengitari sebuah isu yang menyebabkan konflik terjadi. Bila konflik itu terjadi antara orang-orang yang kenal satu sanma lain, maka tabiat relasi kedua orang tersebut yang harus diurai begitu juga kalo konflik itu terjadi antar sodara, maka hubungan kekeluargaan yang harus dikedepankan dan dijadikan landasan solusi. Dalam hal ini, jenis kelamin, pengalaman masa lalu, tingkat pendidikan dan umur dijadikan sebagai kerangka yang dapat dimodifikasi sehingga persoalan, konflik yang terjadi dan konsekuensi yang ditimbulkan dapat dipahami.

Kedua, nilai-nilai. Dalam konflik yang ada, nilai-nilai yang mendasar keyakinan personal, sumber tatanan keluarga, agama dan sekolah. Nilai-nilai ini hendaknya dapat membentuk kerangka pikir seorang pengambil keputusan atau pihak yang berkepentingan untuk lebih focus kepadanya. Artinya nilai dapat menjadi factor yang mendorong seseorang untuk memperhatikan aspek tertentu dari sebuah persoalan dan dapat mengadvokasi (mengarahkan) bagi sebuah pilihan keputusan. Kendati nilai-nilai berbeda dari satu orang kelainnya yang merefleksikan nilai cultural, agama dan pengalaman pribadi yang dapat berperan besar dalam penyelesaian sebuah konflik dimana butir-butir hokum tidak dipersoalkan disini.

Ketiga,prinsip-prinsip. Terkadang prinsip-prinsip ini datang dari sumber-sumber exsternal seperti lembaga atau teori-teori etikal yang dapat memberi arahan bagi prilaku seseorang. Konflik yang terjadi terkadang melibatkan isu-isu hokum yang kerap dapat menyelesaikan persoalan yang ada dengan secarea langsung mengangkat prinsip-prinsip hokum yang terkait. Kode etika professional dan peraturan-peraturan, misalnya, dapat menjadi sandaran dalam konflik. Maka empat prinsip-prinsip yang banyak dilakukan dalam praktek institusional yaitu al-ikhsan (benefaction atau beneficence), praktek dan kebijakan yang non-maleficence (tidak menyakitkan), otonomi dan keadilan (justice/fairness).

Keempat,system etika. System ini merupakan bagian substansial dari proses justifikasi (pembenaran) atas sebuah tindakan.dan indentifikasi sederhana prinsip-prinsip dan nilai-nilai tidak secara tifikal tidak cukup untuk  membuat keputusan yang komplek dan sulit. Dalam kondisi ini system etika diperlukan untuk menjadi support keputusan yang diambil, apakah itu benar atau sebaliknya.

  1. f.       Perubahan

Semua komponen organisasi harus memiliki komitmen yang kuat untuk berubah kearah yang lebih baik.

  1. g.      Partisipasi

Partisipasi aktiv dari semua lini organisasi bagi pencapaian tujuan organisasi menjadi salah satu titik kekuatan bagi terbentuknya budaya yang baik. Masing-masing potensi organisasi harus terlibat aktiv dan mendukung terciptanya budaya organisasi yang kuat dan Islami.

  1. h.      Disiplin

Disiplin merupakan nafas dari organisasi dan merupakan unsure pokok dalam upaya mencapai kualitas atau keberhasilan manajement disamping unsure pemahaman dan komitmen. Keith daviz dan John w, Newstrom membagi disiplin menjadi tiga macam sifat yaitu ;

Disiplin Preventive, yaitu berupa pemberian informasi kepada segenap karyawan mengenai standar moral dan etika serta peraturan yang harus ditegakan dalam organisai, dengan pengetahuan tersebut diharapkan karyawan akan berusaha melaksanakan dengan benar dan mampu menghindari atau mencegah penyimpangan-penyimpangan.

Disiplin Korective, berupa tindakan yang dilakukan setelah terjadi pelanggaran standar perilaku dan peraturan yang tujuannya adalah menghindari pelanggaran lebih lanjut, wujudnya dapat berupa teguran, scorsing atau pemecatan yang dilakukan sebagai proses pendidikan agar menjadi contoh bagi yang lainnya untuk tidak berbuat yang serupa.

Disiplin progressive, yaitu tindakan disipliner berulang kali berupa hukuman yang makin berat, dengan maksud agar pelanggar etika dapat memperbaiki diri hukuman dijatuhkan.

Semua factor diatas hendaknya dapat diperkuat dengan internalisasi nilai-nilai keIslaman yang menjadi factor vital bagi internaslisai nilai-nilai etika dalam pribadi. Karena ajaran Islam sebagai komprehensif memotivasi agar tumbuh dalam diri masing-masing orang semangat kerja (hard work), komitment dan dedikasi pada pekerjaan, komitment dan dedikasi pada pekerjaan, kreativitas kerja, menjauhi perbuatan yang tidak etis, menganjurkan kerja sama dalam kebajikan dan menggalakkan kompetisi baik ditempat kerja. Islam juga mengajarkan keadilan, kedermawanan ditempat kerja dan keterlibatan dalam aktivitas ekonomi adalah sebuah ajaran mulia. Namun diatas semua, keteladan dari para pemimpin menjadi bagian yang sangat krusial karena sebagai mana disinggung pada pembahasan terdahulu bahwa tingkat produktivitas sebuah usaha banyak dipengarhi oleh kinerja dari para eksekutifnya. Dan itu yang diteladani oleh Rasulullah SAW kepada para stakeholdernya umatnya.

  1. F.       Konsep Budaya Organisasi secara Islami

Hal yang sangat penting dan harus disadari bahwa sebuah organisasi yang baik dengan kepemimpinan yang baik, harus disertai dan ditanamkan dengan nilai-nilai yang diyakini oleh setiap elemen organisasi baik atasan maupun bawahan. Begitu pula dengan manajemen yang islami. Tentu nilai-nilainya adalah islam. Dalam firman Allah dijelaskan tentang bagaimana manusia hidup secara bersama atau kelompok.

Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. QS. Al Hujurat : 13

 

 

 

BAB III

PEMBAHASAN

3.1 KONSEP BUDAYA ORGANISASI ISLAMI

Pengertian

Pada dasarnya orang tidak bisa hidup sendiri. Sebagian besar tujuannya dapat terpenuhi apabila ada interaksi sosial dengan orang lain. Sebagai mahluk sosial, manusia tidak bisa hidup sendiri karena manusia memiliki kebutuhan terhadap manusia lainnya. Karena itulah biasanya manusia berkumpul dan membentuk kelompok, yang disebut dengan organisasi. Karang Taruna, perusahaan, kerajaan, negara, adalah bentuk-bentuk dari organisasi. Bahkan sebuah organisasi kejahatan pun pada dasarnya juga adalah sebuah organisasi.

Organisasi yang paling kecil yang kerap kita jumpai adalah keluarga. Keluarga pada hakikatnya adalah sebuah organisasi. Keluarga adalah satuan organisasi terkecil yang pertama  kali dikenal oleh setiap manusia.

Secara definisi Organisasi adalah  wadah berkumpulnya sekelompok orang yang memiliki tujuan bersama, kemudian mengorganisasikan diri dengan bekerja bersama-sama dan merealisasikan tujuanya. Organisasi adalah wadah yang memungkinkan masyarakat dapat meraih hasil yang sebelumnya belum dapat dicapai oleh individu secara sendiri-sendiri. (James L. Gibson, 1986).

Banyak motivasi yang mendorong seseorang masuk dalam sebuah organisasi. Diantara beberapa motivasi atau tujuan seseorang bergabung ke dalam suatu kelompok organisasi adalah :

  1. Kelompok atau organisasi sering dipakai untuk memecahkan masalah-masalah.
  2. Mencegah kesepian dan kerenggangan
  3. Kelompok dapat memberikan bantuan pada saat kesusahan / menjumpai masalah
  4. Kelompok dapat memberikan tujuan dan nilai hidup yang lebih baik, perilaku, dan kesetaraan kelompok
  5. Kelompok sosial , kerja dan bermacam-macam kelompk lainnya memberikan prestige, status dan pengakuan.

 

J           ika melihat pada definisi organisasi, organisasi islami sama halnya seperti organisasi umum, akan tetapi yang menjadi pembeda adalah dalam tubuh organisasi islam orientasi yang dimiliki menjurus kepada kultur keagamaan, prinsip, karakteristik, tujuan yang di capai berasaskan kepada nilai – nilai ke islaman secara menyeluruh.

 

3.2 KONSEP ORGANISASI SECARA ISLAMI

“ Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal “. QS. Al Hujurat : 13

Ayat ini mempunyai makna bahwa manusia diciptakan Allah Subhannahu wa ta’ala dari laki-laki dan perempuan dan akhirnya memiliki kebudayaan dunia yang berkaitan tentang tata cara hidup masing-masing dari mereka. Namun Allah mengingatkan agar manusia yang bertaqwa mengikuti perintah Allah dan menjauhi larangan Nya untuk menjadi manusia yang paling mulia. Dalam mencapai derajat taqwa dan menjadi manusia sekaligus tentu tidak terlepas dari interaksi dengan orang lain dan alam disekitarnya. Kegiatan interaksi timbal balik antar manusia dan dengan lingkungannya merupakan peristiwa sosial yang berujung pada pengayaan budaya.

 

 

Interaksi yang ada tidak begitu saja terbentuk , akan tetapi ada item yang memfasilitasi hal tersebut, sehingga individu – individu bisa saling mengenal dan individu – individu yang mempunyai gambaran kehidupan dengan tujuan yang sama dan direalisasikan menjadi awal organisasi sebagai fasilitas dalam amar ma’ruf nahi munkar serta pengenalan individu – individu dan budaya yang di miliki.

 

 

3.3 MODEL BUDAYA ORGANISASI SECARA ISLAMI

Da’wah berarti seruan. Karena itu da’wah Islam dapat diartikan sebagai seruan atau ajakan kepada seseorang atau kelompok masyarakat untuk mengikuti agama Islam beserta seluruh ajaran dan aturan yang ada di dalamnya. Seseorang atau sekelompok orang yang mengajak kepada Islam dapat disebut sedang melakukan da’wah islamiyah, apapun bentuk dan caranya. Agar da’wah yang dilakukan dapat berlangsung secara efektif dan efisien serta memberi hasil yang memuaskan, maka perlu diselenggarakan secara kolektif melalui suatu organisasi.

Setiap organisasi Islam adalah merupakan lembaga da’wah Islam. Setiap organisasi Islam menyelenggarakan aktivitas da’wah, baik secara langsung maupun tidak langsung. Hal tersebut dilakukan dengan berbagai macam pendekatan, baik melalui da’wah secara khusus, pendidikan, ekonomi, sosial, budaya maupun yang lainnya. Untuk menyahuti kebutuhan da’wah  yang semakin beragam diperlukan organisasi Islam yang memiliki ATVMN (Asas, Tujuan, Visi, Misi dan Nilai-nilai) yang jelas. Selain itu, juga memiliki strategi,  program, aktivitas dan pengembangan yang berwawasan ke depan. Sehingga organisasi Islam dapat ditata dengan sistim organisasi dan management  modern yang profesional.

ASAS

Asas atau dasar suatu organisasi Islam adalah Islam, yang bersumber dari Al Quraan dan Sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini dicantumkan dalam salah satu pasal Anggaran Dasar organisasi, yang menunjukkan bahwa Islam menjadi dasar rujukan dalam setiap aktivitas organisasi. Setiap gerak langkah organisasi tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai Islam, baik dari segi aqidah, syari’ah, ibadah maupun muamalah. Karena itu, suasana islami harus kental menyelimuti setiap aktivitas maupun aktivisnya, baik Pengurus maupun anggota. Aktivitas yang diselenggarakan merupakan manifestasi interaksi dengan Al Quraan dan As Sunnah dalam bentuk aneka realisasi Program Kerja maupun kerja rutin sehari-hari.

Asas Islam bagi suatu organisasi Islam adalah sangat penting sekali. Asas menunjukkan jati diri dan motif pembentukan dan pengembangan organisasi. Asas juga merupakan rujukan dalam memutuskan permasalahan-permasalahan organisasi, sekaligus untuk menjaga dari terjadinya penyelewengan (korupsi) oleh orang-orang atau kelompok yang tidak bertanggungjawab. Karena itu, apabila suatu organisasi yang mengatasnamakan Islam telah menunjukkan terjadinya gejala penyimpangan dari asas Islam dalam aktivitas maupun keputusan yang diambilnya, maka itulah saatnya untuk diingatkan para aktivisnya agar kembali kepada jalan yang benar.

Untuk memberikan pemahaman yang sama tentang asas Islam bagi para aktivisnya, maka organisasi Islam perlu menyusun tafsir asas.  Penafsiran ini merupakan cara pandang organisasi terhadap nilai-nilai Islam yang terkandung dalam Al Quraan dan As Sunnah, yang berkaitan dengan landasan gerak, aktivitas dan cita-cita yang akan diwujudkan oleh organisasi. Tafsir asas diajarkan dalam pelatihan organisasi Islam, terutama bagi anggota baru. Sehingga terjadi kesamaan dan kesinambungan ide atau cara pandang semua aktivis terhadap nilai-nilai Islam yang dipahami organisasi.

 

TUJUAN

Tujuan organisasi (ultimate goal) juga merupakan sesuatu yang sangat penting bagi setiap organisasi Islam, karena itu harus dirumuskan dengan jelas. Selain untuk memberi arah aktivitas yang akan diselenggarakan, adanya tujuan juga untuk menghindari terjadinya penyalahgunaan organisasi oleh orang-orang yang berambisi yang mencari keuntungan pribadi atau kelompok, ataupun kepentingan yang tidak sejalan dengan Islam dan maksud didirikannya organisasi tersebut.

Tujuan organisasi yang baik adalah yang memiliki dimensi duniawi maupun ukhrawi. Setidak-tidaknya statement dari tujuan dinafasi oleh nilai-nilai Islam atau tidak bertentangan dengan Islam. Endang Saefuddin Anshary, MA, menyatakan: “Tujuan organisasi perjuangan Islam haruslah sesuai dengan tuntutan Islam sebagai dasar perjuangan. Rumusan mengenai tujuan organisasi Islam boleh berlainan yang satu dengan yang lainnya, namun haruslah sejalan dengan tujuan Islam itu sendiri”.

Allah subhanahu wa ta’ala adalah tujuan hidup manusia dan kita diciptakan untuk mengabdi kepada-Nya, maka tujuan organisasi Islam seharusnya diselaraskan dengan pengabdian tersebut.  Sebagai contoh kita mengambil rumusan tujuan dengan bunyi: “Terbinanya umat Islam yang beriman, berilmu dan beramal shalih dalam rangka mengabdi kepada Allah dan mengharap keridlaan-Nya “. Nampak  bahwa  tujuan tersebut memiliki  keselarasan  dengan firman   Allah  di  dalam  Al  Quraan.

 

 

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia  melainkan supaya   mereka   menyembah-Ku.   (QS   51:56,   Adz Dzaariyaat).

Disamping itu, tujuan  tersebut mengandung  tiga unsur dinamis,  yaitu  iman, ilmu, dan amal, sehingga dapat memberi dorongan positif. Di dalam  prakteknya,  tujuan disosialisasikan  kepada  para  aktivis, sehingga mereka mengerti apa tujuannya berorganisasi dalam organisasi Islam. Untuk menjamin  agar  aktivitas organisasi  selalu berorientasi pada  tujuan,  maka sebaiknya   setiap  Pengurus  dan  anggota  dapat memahami dan hafal  diluar kepala atas teks  tujuan tersebut.

Tujuan organisasi harus terdapat dalam Anggaran Dasar,  yang merupakan bagian cita-cita yang akan diwujudkan bersama. Tujuan tersebut digunakan sebagai  dasar pada surat-surat keputusan organisasi, dicantumkan dalam proposal kegiatan,   sebagai    bahan pertimbangan   dalam menyusun  pedoman  organisasi dan lain sebagainya. Implementasi dari tujuan dinyatakan dan didistribusikan dalam tujuan-tujuan khusus dan target-target aktivitas organisasi. Dalam kaitan langkah perencanaan aksi, tujuan organisasi dioperasionalkan dalam bentuk Program Kerja baik jangka panjang, jangka menengah maupun jangka pendek.

VISI

Visi memberi gambaran arah atau wujud di masa depan. Penetapan visi organisasi Islam yang tepat, insya Allah, akan memberi semangat, daya juang dan daya saing yang menguntungkan dalam mencapai tujuan. Karena itu, perlu dirumuskan secara jelas, konsepsi pemikirannya luas, mudah dimengerti dan dipahami, aktual sekarang maupun masa datang, memiliki nilai kompetitif, dan realistis.

Visi harus menjadi milik bersama para aktivis, dipahami dan disosialisasikan serta dimengerti bahwa apa yang telah dirumuskan, insya Allah, akan diwujudkan baik sekarang maupun masa yang akan datang. Aktivitas organisasi harus selalu mengarah dalam visi. Kandungan kalimat di dalamnya seolah sinar yang memancar dan hendak dituju untuk keluar dari kegelapan. Contohvisi organisasi Islam yang bergerak di bidang da’wah: “Insya Allah, menjadi lembaga pelayanan, pelatihan, konsultasi, pusat data dan informasi serta pengembangan Da’wah Islam yang handal, kreatif dan bermanfaat bagi masyarakat luas ”. Visi ini diharapkan dapat:

  1. Memperjelas arah dan tujuan perjalanan lembaga.
  2. Meningkatkan daya juang dan daya saing dalam mengalokasikan waktu dan seluruh sumber daya.
  3. Membangkitkan kemampuan unik untuk menciptakan keunggulan kompetitif.
  4. Menjadi standard keunggulan.
  5. Menjadi bagian cita-cita yang ingin dicapai dan direalisasikan.

MISI

Misi adalah arah wujud yang ingin dicapai, sementara misi merupakan jalan yang mengarah ke sana. Misi diperlukan untuk menjadikan visi suatu realita. Statement misi seharusnya pendek, jelas dan lengkap. Misi membimbing lembaga dalam mencapai visinya.  Contoh misi organisasi Islam yang bergerak di bidang da’wah:

  1. 1.      Menghimpun dan menghadirkan data Da’wah Islam  yang akurat, aktual dan dapat dimanfaatkan baik secara langsung maupun tidak langsung.
  2. 2.      Menyimpan, membuat dan mempublikasikan informasi Da’wah Islam yang memiliki ruang lingkup luas dan menjadi alternatif.
  3. 3.      Menyelenggarakan pelayanan, pelatihan dan konsultasi Da’wah Islam yang berkualitas.
  4. 4.      Melakukan pengkajian, pengembangan dan menghadirkan standard-standard Da’wah Islam.
  5. 5.      Memasyarakatkan  dan  mendorong  peningkatan  peran Da’wah Islam dalam rangka menuju kebangkitan Islam.

 

 

 

 

 

 

3.4 NILAI-NILAI BUDAYA ORGANISASI SECARA ISLAMI

Guna menumbuhkan suasana aktivitas yang islami dalam suatu organisasi Islam, maka perlu dikembangkan budaya organisasi yang islami. Nilai-nilai (values) Islam yang perlu dikembangkan menjadi budaya organisasi, di antaranya adalah:

 

  1. 1.      Ibadah.

Segala aktivitas yang diselenggarakan dalam organisasi Islam dijiwai oleh semangat untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan mengharap keridlaan-Nya.

 

  1. 2.      Profesional.

Aktivitas organisasi Islam dirancang dengan cermat, diselenggarakan secara detail, selesai dilaksanakan dengan tuntas dan berhasil tercapai tujuannya dengan baik.

 

  1. 3.      Kualitas.

Aktivitas organisasi Islam diselenggarakan untuk mencapai hasil dengan kualitas (mutu) yang sebaik-baiknya sesuai dengan standard jaminan mutu yang telah dinyatakan.

 

  1. 4.      Prestasi.

Seluruh komponen yang terlibat dalam aktivitas organisasi Islam, baik Pengurus, team, panitia, peserta maupun anggota diharapkan mampu berprestasi setinggi mungkin di bidangya masing-masing.

 

  1. 5.      Perbaikan.

Seluruh komponen yang terlibat dalam aktivitas organisasi, baik Pengurus, Panitia, team maupun anggota berusaha untuk melakukan perbaikan secara individual maupun kelompok demi suksesnya program-program organisasi.

 

ATVMN organisasi Islam adalah merupakan suatu rangkaian aktivitas yang dilandasi oleh Asas pengelolaan guna mencapai Tujuan yang telah ditetapkan dan diarahkan untuk mewujudkan Visi dengan menyelenggarakan berbagai Misi dan mengimplementasikan Nilai-nilai yang dikembangkan. Pada kenyataannya, yang akan terlihat dalam setiap pelaksanaan program organisasi adalah upaya-upaya untuk mewujudkan Visi, aneka kegiatan sesuai dengan Misi serta pola perilaku para aktivisnya dalam mengimplementasikan Nilai-nilai yang telah dikembangkan.

 

 

Gambar: Hubungan ATVMN

3.5 KARAKTERISTIK BUDAYA ORGANISASI SECARA ISLAMI

  1. Planning
  2. Konsep yang baik
  3. Actuiting (pelaksanaan)
  4. Controlling (pengawasan dan pengendalian yang baik)

Pertama, untuk mewujudkan organisasi yang kokoh diperlukan adanya kesesuaian konsep (perkataan) dan pelaksanaan (at tawafuq bainal qouli wal amal).  sebagai orang beriman harus memahami dan melaksanakan hal tersebut. Selain itu, yang diseru di sini adalah orang-orang beriman bukan hanya satu orang beriman.dan di sinilah pesan konsep kejamaahannya (keorganisasiannya). Kesesuaian antara konsep (perkataan) dan pelaksanaan artinya tidak hanya lihai merumuskan ide yang tidak diiringi dengan amal nyata. Justru keduanya harus berjalan dengan sinergi antara konsep dan pelaksanaan. Organisasi itu harus mempunyai konsep cara bekerja. Bukan hanya sekedar mempunyai kemampuan bekerja tetapi juga menguasai cara bekerja. Penguasaan cara bekerja akan memudahkan bagaimana mencapai tujuan berkerja.

Kedua, seluruh komponen di dalamnya saling menguatkan satu dengan yang lain. Dapat dirinci, masing-masing komponen didalamnya bisa menguatkan satu dengan yang lain, bersinergi dalam bekerja dengan program yang jelas, termasuk pembagian pelaksanaan program (pembagian potensi dan pemanfaatan kemampuan)..

Ketiga, Mengukur tantangan-tantangan yang akan dihadapi dalam kerja-kerja organisasi. Tantangan yang diukur adalah semua tantangan baik dari dalam maupun luar organisasi.
Keempat, konsep organisasi mengandung motivasi sert makna optimisme yang jauh dari konsep perjuangan yang ‘menakutkan’ (tidak realistis dan membuat komponen di dalamnya ragu dapat melaksanakannya atau tidak).

Kelima, memiliki kader-kader militan di dalamnya. Militan ini terkait dengan makna komitmen, konsistensi, keseimbangan (tawazunitas), ketaatan serta kecintaan.  ( Ustadz Rofi Munawar Lc )

3.6 NILAI – NILAI BUDAYA ORGANISASI SECARA ISLAMI

Nilai-nilai organisasi  islami adalah ; keikhlasan, kebersamaan dan pengorbanan.

 

 

 

  1. a.      Keikhlasan

Dalam manajemen konvensional (biasa) pada umumnya tidak memiliki nilai keihklasan dalam setiap elemennya. Padahal keikhlasan adalah hal yang sangat penting. Keikhlasan itu sendiri dalam konteks ini adalah mengerjakan semua kewajiban dengan hasil maksimal dan terbaik dengan disertai dengan niat yang bersih. Berapapun nilai penghasilan yang didapat dari organisasi itu, seorang yang ikhlas akan tetap melakukan kewajibannya dengan maksimal. Bahkan kebanyakan ada yang merasa bahwa sesungguhnya Ia tidak pantas diberikan penghargaan sebesar yang Ia dapat saat itu karena merasa pekerjaannya masih belum maksimal, Ia merasa nilai yang Ia dapat terlalu tinggi. Ia akan terus belajar menjadi lebih baik untuk organisasinya. Pada umumnya sifat seperti ini ada dalam orgaisasi dakwah, pendidikan dan sosial. Bahkan terkadang mereka menganggap bahwa pekerjaannya adalah sebuah dakwah dan jihad baginya. Sering juga terdengar ungkapan “untuk apa mengambil recehan yang sedikit jika ada yang lebih besar dari Allah”.

 

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah, mendirikan shalat dan menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tiada merugi.” (QS Fathir {35}:29) “Sesungguhnya Allah sangat menyukai orang yang jika melakukan suatu pekerjaan, dilakukan secara itqan (tepat, terarah, jelas dan tuntas).” (HR. Thabrani).

 

Berbeda dengan manajemen yang konvensional. Sesorang hanya akan mau bekerja sesuai dengan apa yang tertulis dalam “JOB DESCRIPTION” sesuai jabatannya dan sesuai bayaran yang didapat. Tidak peduli bagaimana hasil pekerjaannya. Lain dengan seorang yang ikhlas akan berusaha terus memperbaiki dan mengevaluasi hasi kerjanya, menuju hasil yang terbaik.

 

  1. b.       Kebersamaan

Organisasi adalah teamwork “kerja sama” antar setiap individu di dalamnya. Organisasi dapat kita analogikan sebagai sekumpulan lidi yang diikat menjadi sapu lidi, akan kuat dan tidak terpatahkan saat bersama dan akan mudah dipatahkan saat sendiri. Kebesamaan dalam organisasi adalah hal yang sangat penting yang jika tidak ada akan sangat merepotkan pimpinan organisasi. Meskipun berhimpun tetapi dalam organisasi tidak ada nilai kebersamaan, maka sebenarnya sama saja dengan sendiri-sendiri. Sama seperti yang ditulis di atas. Pegawai hanya akan bekerja sesuai dengan bayaran dan “JOB DESCRIPTION” saja tanpa peduli dengan rekannya. Dalam organisasi yang islami satu sama lain akan saling peduli dan saling membantu meringankan beban rekannya, yang pada hakikatnya adalah saudaranya.

 

Barangsiapa meringankan beban kehidupan duniawi bagi saudaranya, niscaya ALAAH akan meringankan beban kehidupannya di akherat kelak (HR Muslim)

 

  1. c.       Pengorbanan

Dalam organisasi perlu ada pengorbanan dari setiap individu yang ada di dalamnya dalam mencapai suatu tujuan. Setiap elemen organisasi harus mau berkorban untuk tujuan bersama organisasi. Misalkan dalam rangka mencapai suatu target penjualan sebesar 1 milyar. Seorang pimpinan harus memperhatikan kondisi para bawahannya dalam mencapai target tersebut dan terus memotivasinya. Seorang pimpinan juga harus terus berpikir dan bekerja keras untuk mencapai target itu juga. Di saat target tercapai sebaiknya memberikan reward kepada bawahan. Sebaliknya jika target tidak tercapai maka sebaiknya tidak menyerah dan memotivasi bawahannya untuk menjadi lebih baik di kemudian hari. Seorang pimpinan dalam organisasi harus mau berkorban untuk organisasi, bukan malah memanfaatkan organisasi untuk dirinya.

 

Contoh Budaya Islami yang diterapkan dalam Organisasi Perusahaan

Tanggung Jawab Perusahaan (Corporate Sociall Responsibility)

Dewasa ini tidak cukup bagi perusahaan hanya memfokuskan diri pada pertumbuhan ekonomi semata, akan tetapi dibutuhkan sebuah paradigm baru dibidang bisnis yaitu, pembangunan yang berkelanjutan maksudnya adalah suatu upaya untuk memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengurangi kemampuan dan kesempatan generasi berikut untuk dapat memenuhi kebutuhannya. Generasi masa kini harus memanfaatkan seefisien mungkin sumber daya alam yang tersedia sesuai dengan kebutuhan yang optimal.

Keberlanjutan dapat dilihat dari beberapa dimensi yang merupakan dimensi yang saling berkaitan dengan keberlanjutan itu sendiri, antara lain : manusia, social, lingkungan dan ekonomi. Keberlanjutan dibidang manusia erat kaitannya dengan pemeliharaan kualitas sumber daya manusia secara individual seperti kesehatan, pendidikan, keterampilan, kepemimpianan dan  juga pengetahuan

Keberlanjutan dibidang social adalah suatu bentuk pemeliharaan manusia secara kolektif, melaui partisipasi secara sistematis semua komponen masyarakat, baik dalam bentuk kerjasama sesama komunitas, hubungan antar kelompok dalam masyarakat, pertukaran, toleransi, etika, yang terwujud pada aturan-aturan hokum dan disiplin menuju kearah kebersamaan dan kesetaraan.

Keberlanjutan dibidang lingkungan hidup dapat diartikan sebagai kepedulian manusia akan kelestarian sumberdaya alam yang sangat terbatas, manusia harus mengoptimalkan kebutuhan dann sumberdaya yang ada serta melestarikan dan menjamin tersediannya sumberdaya bagi generasi berikutnya. Keberlanjutan dibidang ekonomi maksudnya adalah penggunaan sumber daya modal secara efisien dan menjamin produktifitas investasi dan pertumbuhan yang wajar dari seluruh sector. “pembangunan yang berkelanjutan” akan terwujud jika semua pihak yang memilliki kekuasaan, kepentingan dan mempunyai pengaruh terhadap jalannya perusahaan baik yang berada pada sisi dalam perusahaan maupun pada sisi luar perusahaan bekerjasama dan mendukung program-program perusahaan.

Wujud program Corporate Sosial Responsibility tidak hanya berupa bantuan-bantuan yang  bersifat jangka pendek seperti bantuan pembangunan jalan, bantuan pembangunan sarana ibadah, atau bantuan perayaan hari-hari besar nasioanal, akan tetapi berupa program pemberdayaan masyarakat yang dalam jangka waktu yang panjang dapat memberikan perubahan kesejahteraan masyarakat seperti pembuatan koperasi simpan pinjam, pemberian beasiswa, dan lain sebagainya.

Pelaksanaan program tanggung jawab social perusahaan akan memberikan dampak positif tidak hanya bagi operasional perusahaan akan tetapi juga bagi kelangsungan eksistensi perusahaan untuk jangka panjag, keuntungan yang dapat diraih melaui program ini antara lain: dapat membentuk reputasi , membangunan modal social, dan meningkatkan akses pasar yang lebih luas.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

KESIMPULAN

 

Konteks organisasi dalam sebuah tatanan masyarakat mayoritas muslim menjadi hal yang tendesius bagi keberlangsungan organisasi tersebut, aturan – aturan yang ada dalam budaya islam menjadi sesuatu yang di anjurkan untuk di ikuti dan di laksanakan.

Konsep,model, dan nilai – nilai yang terkandung dalam suatu organisasi adalah awal penafsiran jati diri organisasi tersebut di mata awam masyarakat secara aspek ekonomi, politik dan sosial, baik organisasi tersebut adalah organisasi secara umum maupun organisasi secara islami yang mengambil konsep –konsep keagamaan yang di ambil dari dasar – dasar yang ada di tubuh islam itu sendiri.

Budaya organisasi secara islami adalah suatu wadah berkumpulnya orang – orang yang mempunyai gagasan dan pemikiran yang sejalan, mengambil konsep – konsep dan kebiasan- kebiasaan yang sudah tertanam dalam tatanan islam sebagai dasar bergerak dan usaha  dalam upaya mencapai tujuan organisasi demi kemaslahatan dan ridho Allah SWT.

Tatanan ke – islaman yang di ambil sebagai budaya organisasi tersebut mencakup kepada konsep , model dan nilai – nilai yang terkandung di dalam organisasi tersebut.

Contoh  konsep budaya organisasi secara islami yang di terapkan dalam organisasi ekonomi antara lain sebagai berikut : OKI, MES , IAEI, dsb.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Badroen, Faisal, MBA, Suhendra, S.Ag, MM, Ahmad D. Bashori, MA, dan Arief Mufraini, Lc., M.Si. 2005. Etika Bisnis dalam Islam. Jakarta: Penerbit UIN Jakarta Press.

 

http://arya-muhamad.blogspot.com/2010/01. Membangun Organisasi yang Islami. Diakses 5 Desember 2012.

http://www.psikologi-islam.com/detail. Analisis Membangun Budaya Organisasi Memenangkan Kompetisi. Diakses 5 Desember 2012.

 

 

 

Standar

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s