MAKALAH EKONOMI INTERNASIONAL/ INTERNATIONAL ECONOMIC

Indonesia dalam ACFTA : Dampak, Posisi Strategis, Langkah Antisipasi dan Kesempatan Emas Atau Kecerobohan ?

KATA PENGANTAR
Model globalisasi ekonomi dalam rantai libelarisasi sudah sangat menggeliat dalam peradaban ekonomi abad ke – 20, membuat semua negara di seluruh dunia bersiap – siap dan mengambil regulasi ekonomi dalam menghadapi persaingan global tersebut.
Indonesia merupakan negara yang mempunyai trend positif saat terjadi krisis ekonomi global, dan dalam menghadapi persaingan global ini, Indonesia mengambil suatu loncatan regulasi untuk suatu kemajuan dengan mengadakan Asean – China Trade Agremeent ( ACFTA ).
Makalah ini penulis susun untuk mengetahui dampak yang terjadi kepada Indonesia setelah tergabung dalam hubungan harmonis dengan ACFTA, untuk mengetahui posisi Indonesia dalam ACFTA dan Antisipasi Indonesia dalam menghadapi tantangan ACFTA serta untuk memberikan jawaban apakah ACFTA adalah suatu kesempatan “emas” atau kecerobohan bagi Indonesia ?
Penulis menyadari bahwasanya makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, maka dari itu penulis memohon saran dan kritik yang membangun untuk terciptanya kesempurnaan dalam penyusunan makalah selanjutnya dan tidak lupa juga penulis memohon maaf apabila dalam penyusunan makalah ini terdapat tata bahasa yang kurang berkenan dan tidak sesuai.
Demikian makalah ini penulis susun sebagai suatu kerangka dalam penambahan ilmu pengetahuan yang mudah – mudahan bisa bermanfaat untuk penulis pribadi dan para pembaca umumnya. Terima kasih.

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
PENDAHULUAN
a. Latar Belakang
b. Tujuan dan Maksud Makalah
ISI
BAB I
Definisi ACFTA, Proses Terbentuknya ACFTA dan Spekulasi Indonesia dalam ACFTA
a. Definisi ACFTA
b. Proses Terbentuknya ACFTA
c. Spekulasi Indonesia dalam ACFTA
BAB II
Dampak ACFTA terhadap Indonesia, Posisi Strategis Indonesia dalam ACFTA dan Langkah Antisipasi Indonesia dalam ACFTA
a. Dampak ACFTA terhadap Indonesia
b. Posisi Strategis Indonesia dalam ACFTA
c. Langkah Antisipasi Indonesia dalam ACFTA
BAB III
ACFTA : Kesempatan “emas” atau kecerobohan untuk Indonesia ?
BAB IV
TESTIMONI TOKOH TENTANG ACFTA

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
a. Kesimpulan
b. Saran
PENUTUP DAN DAFTAR PUSTAKA

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Persaingan global adalah suatu momok yang sangat meresahkan bagi para pelaku ekonomi dewasa ini, tidak dapat bersaing di dalamnya sudah pasti terbuang dalam peredaran lingkaran keras persaingan global, regulasi ekonomi Indonesia dalam menyetujui ACFTA membuat para pelaku industri dalam negeri kelabakan dan khawatir karena pasar mereka bisa saja menghilang dan mereka mengalami kerugian.
Maka dari hal itu keberadaan ACFTA ini perlu kita perhatikan dengan seksama dalam pemikiran elegan dan cerdas guna menghadapi gejala yang terjadi saat adanya ACFTA.
Hal ini perlu adanya solusi dan sikap/mental yang harus di bangun dalam menghadapi persaingan global.
B. Maksud dan Tujuan Makalah
Tujuan penyusunan makalah ini sedagai pemenuhan tugas mata kuliah Ekonomi Internasional
Adapun maksud dari disusunnya makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui dampak positif dan negatif terhadap Indonesia dengan adanya ACFTA
2. Mengetahui posisi strategis Indonesia dalam ACFTA
3. Menganalisis potensi Indonesia dalam ACFTA

ISI
BAB 1
Definisi ACFTA, Proses Terbentuknya ACFTA dan Spekulasi Indonesia dalam ACFTA

a. Definisi ACFTA
ACFTA adalah pembukaan pasar dalam nota kesepakatan perjanjian perdagangan bebas yang disetujui melalui kesepakatan penandatangan yang di lakukan oleh negara 6 ASEAN ( Indonesia, Malaysia, Filiphina, Brunei Darussalam, Thailand dan Singapura ) dengan Negara Cina.
Adapun maksud daripada disepakatinya ACFTA adalah terjadi kesempatan yang sama untuk 6 negara ASEAN dan Cina yang tergabung dalam ACFTA untuk memasuki pasar yang ada pada negara – negara ASEAN dan Cina dengan di sepakatinya pengurangan tarif dan penghapusan tarif.
b. Proses Terbentuknya ACFTA
Tahun Proses
2001 Terjadi pertemuan antara Cina dan Negara ASEAN di Bandar Sri Begawan, Brunei Darussalam, Cina menawarkan sebuah proposal ASEN – Cina Free Trade Area untuk jangaka 10 tahun ke depan
2002 – 2004 Pemimpin ASEAN – Cina melakukan perundingan dan menandatangani kerangka perjanjian Comperehensive Economic Cooperatioon ( CEC ), yang di dalamnya terdapat pula diskusi Free Trade Area ( FTA ), mereka tidak ragu lagi terhadap proposal yang di tawarkan Cina sangat menarik.
2002 – 2009 Terjadi beberapa pertemuan – pertemuan untuk membahas kesepakatan lebih lanjut perihal kesepakatan dalam ACFTA.
1 Januari 2010 ACFTA mulai di buka di negara ASEAN dan Cina

c. Spekulasi Indonesia dalam ACFTA
Dalam perjalanan persetujuan indonesia mengikuti ACFTA merupakan suatu analisa yang sangat diperhitungkan mulai dari analisa kemungkinan mendapatkan keuntungan terhadap prerekonomian di dalam negeri maupun kerugian yang akan di alami oleh Indonesia dalam perjalanannya mengikuti pergulatan dalam persaingan global di kawasan perdagangan bebas ACFTA. Di Indonesia, para pendukung Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN-China (ACFTA) melihat pelaksanaan kesepakatan perdagangan itu akan bermakna besar bagi kepentingan geostrategis dan ekonomis Indonesia dan Asia Tenggara secara keseluruhan. Pertumbuhan perekonomian China yang relatif pesat waktu itu menjadikan Negara Tirai Bambu itu salah satu aktor politik dan ekonomi yang patut diperhitungkan Indonesia dan ASEAN.
Sebaliknya, mereka yang berpendapat kritis terhadap kesepakatan perdagangan ini melihat potensi ambruknya industri domestik di Indonesia yang akan kesulitan menghadapi tantangan dari membanjirnya impor produk murah dari China.
Kekhawatiran tersebut memang cukup beralasan. Data statistik Kementerian Perdagangan RI, misalnya, menunjukkan, walaupun jumlah total perdagangan RI dan China meningkat cukup drastis dari 8,7 miliar dollar AS pada 2004 menjadi 26,8 miliar dollar AS pada 2008, Indonesia yang biasanya mencatat surplus dalam perdagangan dengan China, belakangan ini mulai menunjukkan defisit. Tahun 2008, Indonesia mencatat defisit sebesar 3,6 miliar AS.
Partisipasi Indonesia dalam kesepakatan perdagangan bebas ini sebenarnya juga patut dipertanyakan. ACFTA, yang merupakan warisan pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri, tak pernah diratifikasi melalui lembaga perwakilan rakyat, tetapi hanya melalui Keputusan Presiden Nomor 48 Tahun 2004. Waktu itu pemerintah melihat bahwa kesepakatan perdagangan bebas bilateral hanya akan memberikan dampak pada sebagian sektor ekonomi sehingga ratifikasi DPR tidak diperlukan.
Meskipun sejatinya dalam perjalanan keikutsertaan Indonesia dalam ACFTA yang masih kurang beralasan dan belum di ketahuinya potensi pemerintah ikut serta dalam ACFTA, apakah memang suatu regulasi yang sudah diperhitungkan demi kesejahteraan dan kemakmuran rakyat ? atau karena gengsi melihat para negara sahabat sejatinya ikut serta dalam ACFTA ? ataupun alasan yang rasional dan tidak?.
Negara Indonesia sudah masuk dan terkunci dalam roda perdagangan bebas ASEAN – Cina, sudah bukan waktunya lagi mencari dan menerka – nerka semua yang tidak beralasan itu. Para pelaku ekonomi dan masyarakat harus sudah mulai membiasakan diri dan memaksakan dirinya untuk berjuang dalam upaya mempertahankan perekonomiannya agar tidak tergusur oleh dampak – dampak yang di timbulkan oleh ACFTA tersebut.

BAB II
Dampak ACFTA terhadap Indonesia, Posisi Strategis Indonesia dalam ACFTA dan Langkah Antisipasi Indonesia dalam ACFTA

a. Dampak ACFTA terhadap Indonesia
Dengan dibuka ACFTA pada tahun 2011 di negara Indonesia tidak berjalan tanpa hambatan, tetapi terjadi pro dan kontra di kalangan para pelaku ekonomi, para ekonom, pelaku industri dan elite politik.
Dalam proses berlangsungnya ACFTA terjadi beberapa efek atau dampak terhadap kondisi perekonomian di negara Indonesia, dampak tersebut terbagi kepada 2 : dampak positif dan dampak negatif yang di timbulkan.
Dampak positif ACFTA terhadap ekonomi negara Indonesia diantaranya sebagai berikut :
1. Kegiatan ekonomi dalam negeri meningkat
Dengan bermunculannya barang – barang yang baru dari luar produk lokal , membuat suatu persaingan sehat yang memberikan rangsangan ekonomi kepada para pelaku ekonomi lokal untuk bisa berproduksi ebih banyak lagi dalam mengantisipasi ekspansi produk luar.
Dengan bermunculannya barang baru dan jumlah barang yang banyak, membuat tingkat konsumsi seseorang untuk mengkonsumsi barang tersebut semakin meningkat karena adanya komoditas barang dalam skla besar membuat harga barang menurun.

2. Kegiatan produksi akan effisien
Hal ini akan sangat terjadi karena akan terjadinya kesepakatan suatu harga yang bertujuan untuk saling menguntungkan diantara negara – negara yang melaksanakan perdagangan bebas.

3. Ekspor Meningkat
Adanya ACFTA memberikan kesempatan kepada Indonesia untuk melakukan sebanyak – banyak ekspor barang potensial Indonesia ke seluruh negara anggota ACFTA , karena dengan pengurangan tarif dan peniadaan tarif memberikan kesempatan untuk mempermudah masuk barang ke luar negeri.
4. Iventasi Meningkat
Kebijakan dalam perdagangan bebas dengan memberikan kemudahan masuknya barang di area negara ASEAN – Cina, memberikan potensi investasi tinggi untuk para pelaku industri dari luar untuk berinvestasi dalam negeri, dari investasi itu kita bisa memeutarnya untuk peningkatan ekspor.

Adapun dampak negatif ACFTA terhadap Indonesia diantaranya adalah sebagai berikut :
1. serbuan produk asing terutama dari Cina dapat mengakibatkan kehancuran sektor sektor ekonomi yang diserbu. Padahal sebelum tahun 2009 saja Indonesia telah mengalami proses deindustrialisasi (penurunan industri).
Berdasarkan data Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia, peran industri pengolahan mengalami penurunan dari 28,1% pada 2004 menjadi 27,9% pada 2008. Diproyeksikan 5 tahun kedepan penanaman modal di sektor industri pengolahan mengalami penurunan US$ 5 miliar yang sebagian besar dipicu oleh penutupan sentra-sentra usaha strategis IKM (industri kecil menegah). Jumlah IKM yang terdaftar pada Kementrian Perindustriantahun 2008 mencapai 16.806 dengan skala modal Rp 1 miliar hingga Rp 5 miliar. Dari jumlah tersebut, 85% di antaranya akan mengalami kesulitan dalam menghadapi persaingan dengan produk dari Cina ( Bisnis Indonesia, 9/1/2010).

2. Dengan harga lebih murahnya barang – barang dari Cina dibandingkan dengan barang – barang dalam negeri dikhawatirkan akan merebut pasar dalam negeri, karena tidak hanya konsumen yang akan beralih ke prodk – produk cina tetapi para pedagangnya pun akan ikut beralih.

3. Apabila sektor – sektor Industri dalam negeri tidak bisa bersaing dengan produk – produk dari Cina, dikhawatirkan sektor – sekto industri itu akan mengalami penurunan produksi atau bahkan sampai gulung tikar dan bisa menyebabkan terjadinya pengangguran.

4. Karakterisasi perekonomian Indonesia akan semakin lemah dan tidak mandiri, karena segalanya akan bergantung kepada impor, dari hal itu jika banyak sektor ekonomi bergantung pada impor, sedangkan sektor-sektor vital ekonomi dalam negeri juga sudah dirambah dan dikuasai asing, maka apalagi yang bisa diharapkan dari kekuatan ekonomi Indonesia?

5. Jika dalam negeri sendiri sudah kalah bersaing bagaimana untuk mengahadapi dari produk – produk luar, inilah yang terjadi setelah kemunculan ACFTA , neraca perdagangan Indonesia masih dalam kondisi defisit

NERACA PERDAGANGAN
INDONESIA dengan REP.RAKYAT CINA
Periode: 2006 – 2011

URAIAN 2006 2007 2008 2009 2010 Trend%) 2006-2010 Jan-Jul Perubahan%) 2011/2010
2010 2011
Total perdagangan 14.980.466,4 18.233.389,8 26.883.672,6 25.501.497,8 36.116.829,3 23,31 19.160.609,7 26.491.198,0 38,26
Migas 4.011.873,8 3.612.035,6 4.148.600,9 3.090.052,2 2.347.861,2 -11,55 1.219.129,0 1.191.321,4 -2,28
Non migas 10.968.592,6 14.621.354,3 22.735.071,7 22.411.445,5 33.768.968,1 30,68 17.941.480,8 25.299.876,6 41,01
Ekspor 8.343.571,3 9.675.512,7 11.636.503,7 11.499.327,3 15.692.611,1 15,44 7.737.026,2 11.678.618,9 50,94
Migas 2.876.961,3 3.011.412,8 3.849.335,3 2.579.242,8 1.611.661,3 -12,31 762.449,2 767.936,5 0,72
Non migas 5.466.610,0 6.664.099,9 7.787.168,4 8.920.084,4 14.080.949,9 24,41 6.974.576,9 10.910.682,4 56,44
Impor 6.636.895,1 8.557.877,1 15.247.168,9 14.002.170,5 20.424.218,2 31,53 11.423.583,6 14.812.579,2 29,67
Migas 1.134.912,5 600.622,7 299.265,6 510.809,4 736.200,0 -9,77 456.679,8 423.384,9 -7,29
Non migas 5.501.982,6 7.957.254,4 14.947.903,3 13.491.361,1 19.688.018,3 36,04 10.966.903,8 14.389.194,2 31,21
Neraca perdagangan 1.706.676,2 1.117.635,6 -3.610.665,2 -2.502.843,2 -4.731.607,1 0,00 -3.686.557,4 -3.133.960,3 -14,99
Migas 1.742.048,8 2.410.790,1 3.550.069,7 2.068.433,4 875.461,3 -14,18 305.769,5 344.551,6 12,68
Non migas -35.372,5 -1.293.154,5 -7.160.734,9 -4.571.276,6 -5.607.068,4 0,00 -3.992.326,9 -3.478.511,8 -12,87
Sumber : http://www.kemendag.go.id/statistik_neraca_perdagangan_dengan_negara_mitra_dagang/

Neraca Perdagangan Indonesia dengan Filiphina
Periode 2006 – 2011
URAIAN 2006 2007 2008 2009 2010 Trend%) 2006-2010 Jan-Jul Perubahan%) 2011/2010
2010 2011
Total perdagangan 1.690.314,6 2.213.533,1 2.809.150,4 2.949.899,3 3.886.986,2 21,56 2.288.633,8 2.581.670,1 12,80
Migas 31.563,8 27.104,1 39.318,1 52.170,2 66.623,1 23,97 47.507,0 21.035,8 -55,72
Non migas 1.658.750,8 2.186.429,0 2.769.832,3 2.897.729,1 3.820.363,1 21,53 2.241.126,9 2.560.634,3 14,26
Ekspor 1.405.668,8 1.853.683,1 2.053.611,3 2.405.864,1 3.180.743,4 20,85 1.863.098,0 2.096.563,8 12,53
Migas 28.225,2 25.159,5 2.260,2 49.021,1 63.737,5 25,81 45.447,5 19.485,5 -57,13
Non migas 1.377.443,6 1.828.523,6 2.051.351,1 2.356.843,1 3.117.005,9 20,77 1.817.650,4 2.077.078,3 14,27
Impor 284.645,8 359.850,0 755.539,1 544.035,2 706.242,8 24,99 425.535,9 485.106,3 14,00
Migas 3.338,6 1.944,6 37.057,9 3.149,1 2.885,6 1,92 2.059,5 1.550,2 -24,73
Non migas 281.307,2 357.905,4 718.481,2 540.886,0 703.357,2 25,18 423.476,4 483.556,0 14,19
Neraca perdagangan 1.121.023,0 1.493.833,1 1.298.072,2 1.861.828,9 2.474.500,6 19,77 1.437.562,1 1.611.457,6 12,10
Migas 24.886,6 23.214,9 -34.797,6 45.871,9 60.852,0 0,00 43.388,1 17.935,3 -58,66
Non migas 1.096.136,4 1.470.618,2 1.332.869,9 1.815.957,0 2.413.648,7 19,60 1.394.174,0 1.593.522,3 14,30
Sumber : http://www.kemendag.go.id/statistik_neraca_perdagangan_dengan_negara_mitra_dagang/
Neraca Perdagangan Indonesia dengan Malaysia
URAIAN 2006 2007 2008 2009 2010 Trend%) 2006-2010 Jan-Jul Perubahan%) 2011/2010
2010 2011
Total perdagangan 7.304.091,1 11.507.990,8 15.354.841,1 12.500.255,0 18.011.053,6 20,78 9.872.351,8 12.255.436,5 24,14
Migas 1.909.749,5 4.764.982,7 5.439.125,8 3.679.653,2 5.735.614,6 21,42 3.087.222,3 3.390.581,7 9,83
Non migas 5.394.341,6 6.743.008,1 9.915.715,3 8.820.601,8 12.275.439,0 21,08 6.785.129,4 8.864.854,7 30,65
Ekspor 4.110.757,5 5.096.063,5 6.432.551,9 6.811.823,5 9.362.332,5 21,37 5.074.095,2 6.618.827,2 30,44
Migas 321.162,8 502.946,0 448.061,5 1.175.451,8 1.608.741,0 50,25 914.128,6 1.002.097,6 9,62
Non migas 3.789.594,7 4.593.117,5 5.984.490,4 5.636.371,8 7.753.591,4 17,78 4.159.966,6 5.616.729,5 35,02
Impor 3.193.333,6 6.411.927,3 8.922.289,2 5.688.431,5 8.648.721,1 20,60 4.798.256,6 5.636.609,3 17,47
Migas 1.588.586,7 4.262.036,7 4.991.064,3 2.504.201,5 4.126.873,6 14,77 2.173.093,7 2.388.484,1 9,91
Non migas 1.604.746,9 2.149.890,6 3.931.224,9 3.184.230,0 4.521.847,6 27,95 2.625.162,9 3.248.125,2 23,73
Neraca perdagangan 917.423,9 -1.315.863,8 -2.489.737,3 1.123.392,1 713.611,3 0,00 275.838,6 982.217,9 256,08
Migas -1.267.423,9 -3.759.090,7 -4.543.002,8 -1.328.749,7 -2.518.132,5 0,00 -1.258.965,1 -1.386.386,5 10,12
Non migas 2.184.847,8 2.443.226,9 2.053.265,6 2.452.141,8 3.231.743,9 8,18 1.534.803,7 2.368.604,4 54,33
Periode 2006 – 2011
Sumber : http://www.kemendag.go.id/statistik_neraca_perdagangan_dengan_negara_mitra_dagang/

Neraca Perdagangan Indonesia dengan Singapura
Periode 2006 – 2011
URAIAN 2006 2007 2008 2009 2010 Trend%) 2006-2010 Jan-Jul Perubahan%) 2011/2010
2010 2011
Total perdagangan 18.964.384,0 20.341.412,1 34.651.531,5 25.813.063,4 33.964.096,3 15,07 19.524.951,9 25.407.081,9 30,13
Migas 7.406.800,7 7.442.699,2 13.451.378,2 8.628.905,0 14.357.256,3 15,85 8.411.429,5 12.669.256,0 50,62
Non migas 11.557.583,3 12.898.712,9 21.200.153,3 17.184.158,3 19.606.840,0 14,38 11.113.522,4 12.737.825,8 14,62
Ekspor 8.929.849,2 10.501.617,3 12.862.045,2 10.262.665,1 13.723.265,6 8,72 8.083.907,1 10.334.228,5 27,84
Migas 1.105.695,1 1.511.244,1 2.757.476,6 2.315.102,5 4.169.693,5 36,09 2.741.947,2 3.722.961,1 35,78
Non migas 7.824.154,1 8.990.373,2 10.104.568,6 7.947.562,6 9.553.572,1 2,80 5.341.959,9 6.611.267,4 23,76
Impor 10.034.534,8 9.839.794,8 21.789.486,3 15.550.398,3 20.240.830,7 20,45 11.441.044,8 15.072.853,4 31,74
Migas 6.301.105,6 5.931.455,1 10.693.901,6 6.313.802,6 10.187.562,8 10,78 5.669.482,4 8.946.294,9 57,80
Non migas 3.733.429,2 3.908.339,7 11.095.584,7 9.236.595,7 10.053.267,9 32,86 5.771.562,4 6.126.558,4 6,15
Neraca perdagangan -1.104.685,6 661.822,4 -8.927.441,2 -5.287.733,2 -6.517.565,1 0,00 -3.357.137,7 -4.738.624,9 41,15
Migas -5.195.410,5 -4.420.211,0 -7.936.425,0 -3.998.700,1 -6.017.869,3 0,00 -2.927.535,2 -5.223.333,8 78,42
Non migas 4.090.724,9 5.082.033,4 -991.016,2 -1.289.033,0 -499.695,8 0,00 -429.602,5 484.709,0 -212,83
Sumber : http://www.kemendag.go.id/statistik_neraca_perdagangan_dengan_negara_mitra_dagang/

Neraca Perdagangan Indonesia dengan Thailand
URAIAN 2006 2007 2008 2009 2010 Trend%) 2006-2010 Jan-Jul Perubahan%) 2011/2010
2010 2011
Total perdagangan 5.685.031,5 7.341.341,4 9.995.515,6 7.846.736,1 12.037.304,1 16,96 7.150.766,9 9.944.506,8 39,07
Migas 668.573,2 499.652,9 511.107,0 677.508,4 562.297,1 -0,42 451.912,0 381.977,2 -15,48
Non migas 5.016.458,3 6.841.688,5 9.484.408,5 7.169.227,7 11.475.007,0 18,55 6.698.854,9 9.562.529,6 42,75
Ekspor 2.701.548,7 3.054.276,0 3.661.251,9 3.233.813,1 4.566.569,3 11,71 2.737.575,2 3.781.850,5 38,15
Migas 647.429,0 407.376,2 446.726,4 635.424,6 512.208,9 -0,24 424.848,7 329.257,6 -22,50
Non migas 2.054.119,7 2.646.899,8 3.214.525,5 2.598.388,5 4.054.360,4 14,36 2.312.726,5 3.452.592,9 49,29
Impor 2.983.482,8 4.287.065,4 6.334.263,7 4.612.923,0 7.470.734,8 21,03 4.413.191,7 6.162.656,2 39,64
Migas 21.144,2 92.276,7 64.380,6 42.083,8 50.088,2 9,85 27.063,3 52.719,5 94,80
Non migas 2.962.338,6 4.194.788,7 6.269.883,0 4.570.839,2 7.420.646,6 21,20 4.386.128,4 6.109.936,7 39,30
Neraca perdagangan -281.934,2 -1.232.789,4 -2.673.011,7 -1.379.110,0 -2.904.165,5 0,00 -1.675.616,5 -2.380.805,7 42,09
Migas 626.284,7 315.099,5 382.345,8 593.340,7 462.120,7 0,25 397.785,5 276.538,1 -30,48
Non migas -908.218,9 -1.547.888,9 -3.055.357,5 -1.972.450,7 -3.366.286,2 0,00 -2.073.402,0 -2.657.343,8 28,16
Periode 2006 – 2011
Sumber : http://www.kemendag.go.id/statistik_neraca_perdagangan_dengan_negara_mitra_dagang/

Neraca Perdagangan Indonesia dengan Brunei Darussalam
URAIAN 2006 2007 2008 2009 2010 Trend%) 2006-2010 Jan-Jul Perubahan%) 2011/2010
2010 2011
Total perdagangan 1.644.490,8 1.908.088,2 2.476.288,5 714.452,6 727.148,2 -23,01 452.315,1 523.261,7 15,69
Migas 1.602.755,4 1.861.151,2 2.410.810,3 636.682,3 659.119,6 -24,80 408.581,2 470.463,4 15,15
Non migas 41.735,4 46.937,1 65.478,1 77.770,3 68.028,6 15,98 43.733,9 52.798,3 20,73
Ekspor 37.557,9 43.367,4 59.671,0 74.861,9 60.963,9 16,35 40.057,0 46.354,7 15,72
Migas 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,00 0,0 0,0 0,00
Non migas 37.557,9 43.367,4 59.671,0 74.861,9 60.963,9 16,35 40.057,0 46.354,7 15,72
Impor 1.606.932,9 1.864.720,8 2.416.617,5 639.590,7 666.184,2 -24,66 412.258,1 476.907,0 15,68
Migas 1.602.755,4 1.861.151,2 2.410.810,3 636.682,3 659.119,6 -24,80 408.581,2 470.463,4 15,15
Non migas 4.177,5 3.569,7 5.807,2 2.908,4 7.064,6 8,83 3.676,9 6.443,5 75,24
Neraca perdagangan -1.569.374,9 -1.821.353,5 -2.356.946,5 -564.728,8 -605.220,3 0,00 -372.201,1 -430.552,2 15,68
Migas -1.602.755,4 -1.861.151,2 -2.410.810,3 -636.682,3 -659.119,6 0,00 -408.581,2 -470.463,4 15,15
Non migas 33.380,5 39.797,7 53.863,8 71.953,5 53.899,3 16,77 36.380,2 39.911,2 9,71
Periode 2006 – 2011
Sumber : http://www.kemendag.go.id/statistik_neraca_perdagangan_dengan_negara_mitra_dagang/

Analisis singkat :
Jika melihat kepada tabel di tasa perdagangan Indonesia setelah munculnya ACFTA mengalami defisit perdagangan terhadap seluruh negara 6 ASEAN dan Cina, kecuali Filiphina dan Malaysia, ini mengindikasikan bahwasanya dengan bergabungnya Indonesia kedalam ACFTA merupakan suatu spekulasi yang salah dalam mengambil regulasi karena membuat kemerosotoan dalam tingkat perdagangan Indonesia.
b. Posisi Strategis Indonesia dalam ACFTA
Dengan masuknya Indonesia ke dalam G-20 yang mempunyai kewenangan untuk mengatur pola arah kebijakan ekonomi di dunia , sebenarnya sangat menguntungkan dalam posisi Indonesia di dalam ACFTA dengan kewenangan yang dmiliki Indonesia, Indonesia bisa membuat suatu arah kebijakan bawah tanah yang bisa menguntungkan perekonomian dalam negeri.
Selain dalam sudut pandang ekonomi, Indonesia merupakan kekuatan yang nyata dari sisi demografis, geografis, dan politis. Profesor Aymeric Chauprade, pakar geopolitik asal Prancis bahkan menilai Indonesia dapat menjadi salah satu kekuatan utama dunia, yang pada gilirannya dapat menjadi penyeimbang politik dunia. Bersama Rusia dan India, Indonesia dapat mencegah terjadinya bipolarisasi yang mungkin terjadi akibat pertentangan yang semakin tajam antara AS dan China. Pendapat Chauprade itu didasarkan pada alasan bahwa di masa mendatang keseimbangan global sangat bergantung kepada hubungan Barat-Islam-China dan Indonesia, yang selalu mengedepankan soft power, memiliki hubungan baik dengan berbagai pihak tersebut.
c. Langkah Antisipasi Indonesia dalam ACFTA
Dalam upaya mensejajarkan diri dan mencoba setingkat lebih di atas negara – negara anggota ACFTA, Indonesia perlu mempunyai strategi elegan dalam mengantisipasi kemungkinan – kemungkinan yang terjadi dari resiko – resiko yang akan muncul dari tergabungnya Indonesia di dalam ACFTA.
Dengan melihat kenyataan yang terjadi di dalam perekonomian sekarang, perdagangan bebas dalam ACFTA masih belum menguntungkan Indonesia dari segi tingkat perekonomian, barang – barang impor masih mendominasi daripada barang – barang yang di ekspor oleh Indonesia.
Barang – barang produksi dalam negeri masih kalah bersaing dengan produk – produk yang datang dari luar, notabene masyarakat masih lebih konsumif terhadap barang – barang impor dari Cina dari pada barang – barang produksi sendiri, ini mengindikasikan adanya tingkat kepercayaan dalam konsumen Indonesia yang masih melihat kalau barang – barang impor dari Cina lebih mempunyai kualitas dan harga yang lebih murah di bandingkan dengan barang – barang yang di produksi di dalam negeri.
Jika ini terus terjadi kemungkinan tingkat perekonomian Indonesia akan merosot kedalam keterpurukan karena kita akan cenderung mengandalkan dari biaya masuk barang saja , tidak dari keuntungan yang di ambil dari produksi barang sendiri.
Meskipun secara laju pertumbuhan Indonesia yang di liris oleh Badan Pusat Statistik ( BPS ) negara Indonesia berada dalam tren positif pertumbuhan perekonomian, akan tetapi imbas dari laju pertumbuhan itu belum bisa di rasakan oleh masyarakat, dengan di buktikan dari tingkat perekonomian masyarakat yang masih rendah.
Dari gejala – gejala yang muncul di atas kiranya perlu suatu langkah inspiratif dan antisipatif oleh pemerintah Indonesia dalam menghadapi guncangan dan gejolak – gejolak ACFTA dalam perekonomian Indonesia.
Langkah inspiratif dan antisipatif tersebut bisa dilakukan oleh pemerintah Indonesia sejak dini, ada beberapa langkah yang bisa di jdikan suatu strategi elegan untuk mendongkrak perekonomian Indonesia di dalam ke tergabungannya dengan ACFTA, diantaranya adalah :
1. meningkatkan daya saing produk dalam negeri yang dilakukan melalui lintas sektoral, pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta organisasi para pengusaha nasional, seperti Kamar dagang dan industri (Kadin), Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) dan Asosiasi Pengusaha Indonesia Apindo).
Dengan peran masing – masing memberikan informasi dan solusi , pemerintah pusat dan pemerintah daerah mengendalikan dan mengatur alur produksi dalam negeri sehingga produksi dapat terdistribusi sesuai dengan line yang menguntungkan kepada produksi barang lokal, organisai pengusaha Indonesia memberikan peran dalam kontribusi dalam pemberian informasi terhadapsektor – sktor industri yang sedang mengalami injury karena persaingan global di dalam ACFTA

2. memberlakukan pengamanan produk dalam negeri guna menghindari praktek perdagangan yang tidak adil dan sehat (unfair trade) yakni safeguard.
Hal ini dimaksudkan apabila ada lonjakan impor dan menimbulkan injury terhadap produsen dalam negeri, maka safeguard akan dikenakan kepada semua negara pengimpor produk.

3. Melakukan pendekatan bilateral.
Pendekatan bilateral ini difokuskan pada bagaimana pemerintah China dan Indonesia bisa meningkatkan volume perdagangan yang berimbang serta join production antara Indonesia, China, dan Asean.

4. Meningkatkan dan membangun infrastruktur yang ada dan belum ada, dengan menyeimbangkan anggaran untuk biaya pembangunan dan pemeliharaan, karena saat ini anggaran yang dikeluarkan pemerintah Indonesia lebih banyak di alokasikan terhadap pemeliharaan infrastruktur daripada pembangunan, sangat berbeda jauh dengan negara ASEAN dan Cina, mereka lebih banyak mengalokasikan anggarannya untuk pembangunan infrastruktur dalam upaya untuk mempermudah dan memperlancar perdagangan.
Dengan pembangunan infrastruktur yang dilakukan oleh pemerintah hal itu bisa memberikan kontribusi besar dalam kelancaraan distribusi produk lokal dari suatu lokasi ke lokasi yang lainnya.
perlunya perbaikan hubungan koordinasi antar departemen dan antar pemerintah pusat dan daerah. Tidak kooperatifnya pemerintah daerah membuktikan tidak berfungsinya line of command. Ini terkait langsung dengan persoalan perijinan, dan persoalan pembebasan tanah yang selama ini menjadi kendala terbesar pembangunan infrastuktur. Tidak jelasnya sistem tata ruang di banyak daerah, apakah tanah tersebut termasuk hutan lindung, hutan tanaman industri, hutan kelapa sawit atau lainnya telah dimanfaatkan oleh oknum aparat hukum untuk mengambil keuntungan dari pengusaha yang berinvestasi, kesimpangsiuran yang menyebabkan ekonomi biaya tinggi itu harus diatasi.
5. Pemerintah dan pengusaha harus bekerja sama dalam pembangunan dengan melibatkan masyarakat banyak, labor intensive, dan keringanan dalam pajak untuk industri lokal sehingga mereka bisa bersaing dalam harga dengan produk – produk dari Cina yang cenderung lebih murah.

6. Merangsang para pelaku produksi Indonesia untuk lebih kreatif dan inovatif dalam penyediaan barang sebagai daya tarik untuk konsumen, dengan seperti itu produk atau barang – barang hasil dalam negeri bisa mendapatkan pasar dari masyarakat sendiri.

7. Membuat suatu regulasi cerdas dalam menemukan strategi – strategi kreatif untuk meminimalisir efek dari ACFTA tanpa melanggar ketentuan – ketentuan WTO, antara lain dengan maksimalisasi SNI di kementerian perdagangan. Maksimalisasi SNI ini berpotensi kuat membantu mensortir barang yang tidak berkualitas untuk tidak masuk ke Indonesia.
Dengan adanya SNI ini Indonesia bisa membuat peraturan untuk produk –produk dari luar supaya menggunakan bahasa Inonesia di dalam produknya sehingga meminimalisasi terhadap penipuan.

8. Memaksimalkan potensi Sumber Daya Alam yang dimiliki Indonesia sebagai spesialisasi produk dalam bersaing dengan produk – produk dari luar, karena kekurangan dari negara – negara ACFTA adalah kurangnya Sumber Daya Alam yang dimiliki.

9. Indonesia sudah saatnya untuk merubah perilaku ekspornya yang hanya mengandalkan ekspor bahan mentah, pengolahan sumber daya alam yang ada menjadi alternatif dalam mengembangkan dan meningkatkan pendapatan produksi dengan mengandalkan value added di dalamnya.

10. Harus ada pengamanan dalam pendistribusian barang yang dihasilkan karena tingkat harga barang lokal yang dikatakan lebih mahal daripada barang dari luar negeri disebabkan karena dalam proses pendistribusian barang di dalam negeri masih sering kali terjadi pungli disetiap pendistribusiannya , sehingga barang dalam negeri cenderung lebih besar daripada produksi barang dari luar karena untuk mengganti pembayaran untuk mengganti biaya pungli tersebut.

11. Masyarakat harus menunjukan jiwa nasionalismenya dengan mengkonsumsi barang nasional, dengan seperti itu, akan menjadi suatu tumpuan yang sangat menguntungkan untuk para pelaku produesen lokal dalam eksistensinya bersaing dengan produk dari luar.

12. Harus mulai ditanamkannya kekuatan mental jasmani, daya pikir dan spiritual para pelaku usaha untuk tetap bertahan menghadapi gempuran persaingan global, dengan perngharapan pada saat terjadi gempuran persaingan global yang membuatnya tergusur tidak mematahkan semangat mereka tetapi, akan muncul kekuatan berinovasi untuk ikut bersaing.

BAB III
ACFTA : Kesempatan “emas” atau kecerobohan untuk Indonesia ?

Proses keberlangsungan perdagangan bebas di kawasan ASEAN – Cina atau yang populer dengan nama ACFTA memiliki dampak positif dan negatif yang ditimbulkan, negara yang ikut serta dalam perdagangan bebas ini ASEAN ( Indonesia, Malaysia, Filipina, Brunei Darussalam, Thailand dan Singapura ) dan Cina, sudah pasti mengetahui konsekuensi dari adanya perjanjian tersebut dengan di bukanya para dalam negeri secara luas untuk dapat di masuki barang – barang industri dari negara – negara yang ikut serta dalam perjanjian tersebut.
Semua negara sudah tahu, bahwa perdagangan Cina sedang mengalami fluktuasi kenaikan yang pesat, melalui strategi kekuatan ekspornya, negara Cina sekarang ini menjadi suatu negara yang memiliki kekuatan ekonomi dan mampu bertahan dalam krisis ekonomi.
Dari sinilah Indonesia harus mulai belajar dari pengalaman bangsa lain tentang Cina, khususnya dalam hubungan dagang international, dan mentalitas atau kebijakan dalam negeri yang mereka lakukan.
Perjalanan ACFTA ini tidak terlepas dari anggapan yang menyatakan pro dan kontra, para pihak yang menyatakan Pro beranggapan ACFTA ini merupakan peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan ekspor ke Cina dan negara – negara ASEAN serta dengan adanya ACFTA akan menarik para investor – investor dari negara – negara tersebut yang akan menanamkan modalnya di Indonesia guna membuka lapangan usaha baru untuk menyerap tenaga kerja di Indonesia.
Sedangkan pihak yang menyatakan Kontra beranggapan, adanya ACFTA akan menimbulkan kekhawatiran terhadap dampak yang akan ditimbulkannya, seperti kelangsungan produksi lokal, khususnya usaha mikro kecil dan menengah yang saat ini berjalan terseok – seok.
The show must go on, itulah istilah yang tepat yang harus diterima oleh masyarakat Indonesia. ACFTA ini tidak seharusnya menjadi momok yang menakutkan bagi Indonesia, memang disatu sisi kesepakatan tersebut akan banyak menguntungkan untuk konsumen dan di satu sisi akan mengancam kelangsungan hidup produsen lokal.
Masyarakat harus mempunyai keyakinan , kesepakatan yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia sudah diperhitungkan dengan regulasi prorakyat yang dikenak sebagai Early Harvest Programme, di tambah dengan perbaikan – perbaikan sarana dan infrastruktur serta solusi dalam mengahadapi konsekuensi negatif ikut sertanya Indonesia dalam ACFTA.
Dengan demikian, adanya ACFTA merupakan suatu kesempatan ”emas” bagi negara Indonesia, kapan lagi negara ini bisa bersaing dalam persaingan global kalau tidak saat ini, dimana semua negara maju dan berkembang, mengeskplore dirinya untuk menjadi suatu kekuatan baru dalam perekonomian dunia.
Bukan menjadi alasan bagi para pelaku usaha untuk mengatakan kita masih belum layak dan terburu – buru ikut dalam ACFTA, durasi kesepakatan untuk perjanjian ACFTA berjarak 10 tahun dari tahun 2000 sampai 2010, dan pemerintah sebelum di mulainya ACFTA sudah menginformasikan hal itu, dengan harapan para pelaku usaha dapat mempersiapkan diri, berinovasi dan berpikir kreatif dalam produksi untuk tujuan bisa bersaing dan mensejajarkan diri dengan kompetitor yang berasal dari negara lain.
Dengan ACFTA ini para pelaku usaha di Indonesia bisa termotivasi dan belajar banyak dari negara – negara ACFTA untuk bisa lebih maju dalam berpikir dan mencontoh mentalitas mereka dalam menghadapi persaingan global.
Potensi sumber daya yang dimiliki Indonesia merupakan keuntungan terbesar yang bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk di jadikan suatu komoditas dalam ekspor ke luar, karena asumsi yang menguatkannya adalah di negara – negara anggota ACFTA yang mempunyai daerah dengan sumber daya alam dan luas wilayah paling besar adalah Indonesia, dengan begitu kita bisa menguasai kawasan ASEAN dengan banyaknya bahan baku yang dimiliki. Meskipun negara Cina juga memiliki luas wilayah yang luas tetapi dalam sumber daya alam yang dijadikan sebagai bahan baku produksi, sumber daya alam mereka masih kalah oleh negara Indonesia.
Maka dari itu dengan adanya ACFTA dan jika Indonesia mau mengeksplor potensi yang dimiliki oleh Indonesia, dari bahan baku yang melimpah di buat menjadi bahan olahan yang mempunyai value added negara Indonesia bisa menjadi penguasa region di ACFTA ini.
Kesempatan “emas” yang ada dalam ACFTA itu benar – benar akan menjadi emas apabila Indonesia bisa berpikir lebih maju, cerdas dan elegan dalam menggali potensi yang ada dan memanfaatkan keunggulan yang dimiliki.
BAB IV
TESTIMONI TOKOH TERHADAP ACFTA
Dengan adanya ACFTA terjadilah Pros dan cons diantara para pelaku ekonom, maka dari ituterdapat beberapa testimoni mengenai ACFTA yang berdampak bagi perekonomianIndonesia.
• Ketua Komisi VI DPR F-Partai Golkar, Airlangga Hartarto :
“Kita minta kepada pemerintah secepatnya membuat kebijakan yang tepat untuk menyambut ACFTA, karena kita paham tak semua sektor riil itu siap menghadapi ACFTA, jadi memang ada beberapa yang belum siap, bahkan tak siap,” katanya,.

• Jakarta, 19 Januari 2010 (Business News) :
”Dengan dibukanya perdagangan ASEAN – China Free Trade Agreement (AC-AFTA) cukup mengerikan bagi Indonesia”, ujar Benny A. Kusbini selaku Ketua Harian Dewan HortikulturaIndonesia, dalam perbincangannya dengan Business News, Senin (19/1) mengatakan, sebab tanpa ada FTA saja, produk China sudah banyak melanglang buana di Indonesia.

• Sofjan Wanandi, Ketua Apindo
“Menghadapi ACFTA, Lets Do Our Homework ! “

• Tandean Rustandy, MBA
ACFTA, Mengapa harus takut ?

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan :
• Perdagangan internasional memang dibutuhkan oleh setiap negara karena dengan melakukan perdagangan internasional yang berbentuk ekspor – impor bisa meningkatkan pendapatan suatu negara.
• ACFTA adalah perjanjian perdagangan bebas dalam menghadapi dan bertahan dalam persaingan global yang mempunyai konsekuensi dualisme, mempunyai efek/dampak yang menguntungkan dalam meningkatkan pendapatan suatu negara, sehingga bisa membuat suatu ketahanan ekonomi dalam negaranya dan memperbaiki tingkat perekonomian rakyatnya dan ACFTA ini juga mempunyai dampak yang mengancam suatu perekonomian suatu negara apabila negara tersebut tidak mampu bersaing dan memanfaatkan potensi yang dimilikinya, bisa membuat suatu negara tersebut terjungkal dan mengalami kerugian karena tidak bisa bertahan dalam persaingan.
• Pasar yang dimiliki Cina merupakan peluang besar bagi Indonesia dalam meningkatkan potensi ekspor.
• Negara ASEAN ( Indonesia, Malaysia, Thailand, Brunei Darussalam, Filipina dan Singapura) yang tergabung dalam ACFTA ini mempunyai kesempatan emas untuk bisa meraih keuntungan dari ACFTA ini dengan memanfaatkan pasar yang dimiliki Cina, yang sedang meningkat pesat dalam kancah perdagangan internasional.
• Indonesia adalah negara yang mempunyai potensi sumber daya alam yang sangat besar, sedangkan anggota ACFTA lainnya tidak memiliki potensi sumber daya alam seperti halnya Indonesia. Potensi sumber daya alam inilah yang menjadi spesialisasi Indonesia untuk menguasai region ACFTA.
• ACFTA adalah kesempatan “emas” untuk Indonesia, dengan adanya ACFTA ini Indonesia bisa mengekspor lebih banyak lagi barang – barangnya ke luar negara – negara ACFTA tersebut tanpa ada biaya yang mengikat.

• Dari segi prilaku produsen, dengan adanya ACFTA bisa dijadikan sebagai pembelajaran dalam melihat pasar dan menguatkan mentalitas dalam persaingan global.
• Adanya ACFTA membuka lebar para investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia sehingga bisa dimanfaatkan untuk membuat lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan.
• Adanya ACFTA akan menaikan tingkat konsumsi dalam negeri.

Saran :

• Dalam kondisi rill produk barang dalam negeri Indonesia kalah bersaing dengan produk dari Cina yang mempunyai kelebihan dalam kualitas dan harga yang lebih murah, kepercayaan masyarakat terhadap barang lokal sangat rendah sehingga membuat barang dalam negeri kalah bersaing dengan barang dari luar.
Dampak – dampak negatif itu seharusnya tidak akan terjadi jika pemerintah Indonesia bisa mengaplikasikan langkah – langkah antisipatifnya, jika itu terlaksana dampak – dampak negatif ACFTA akan berbalik 3600 menjadi dampak positif.
• Strategi – strategi ekonomi yang elegan dan cerdas yang di miliki Indonesia seperti tindakan kerjasama yang dilakukan pemerintah pusat dan daerah dengan para pengusaha, dalam memberikan keringanan pajak kepada para pelaku usaha lokal dan merangsang mereka untuk berpikir kreatif dalam menciptakan produk lokal yang berkualitas akan menjadi formula dalam menghadapi perdagangan bebas ini.
• Ditambah dengan perbaikan infrastruktur dan pengamanan yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia menjadi alternative untuk meningkatkan daya saing dalam ACFTA.
• Peran pemerintah adalah paling vital dalam menolong para produsen lokal untuk/agar bisa bersaing dengan produsen dari luar, adanya regulasi SNI yang di keluarkan oleh kemendag merupakan langkah tepat dalam memilah barang dari luar yang akan masuk ke Indonesia, meskipun barang dari luar tersebut sangat banyak tetapi akan berkualitas.
• Langkah – langkah Antisipasi dan posisi strategis Indonesia dalam G-20 harus dimanfaatkan untuk memperoleh keuntungan dalam ACFTA.
• Pemerintah sepatutnya melakukan langkah antisipatif untuk memberikan kesempatanindustri lokal berkembang, peningkatan kapasitas terpasang di seluruh cabang industrimanufaktur, deregulasi perizinan, perbaikan infrastruktur listrik, jalan, dan pelabuhan,serta akses intermediasi perbankan yang menarik bagi investor dan peduli terhadapMarket Domestic Obligation (MDO).
• UKM (usaha kecil menengah) perlu ditingkatkan guna memajukan daya saing produk yang semakin ketat. Hal ini dapat dilakukan dengan cara memberikan keringananterhadap para wirausahawan dalam memperoleh kredit usaha.
• Pemerintah harus tetap konsisten dengan kewajiban penggunaan bahan baku lokal untuk berbagai sektor infrastruktur

PENUTUP DAN DAFTAR PUSTAKA

Penutup
Demikian paparan penjelasan mengenai Indonesia dalam ACFTA melalui makalah ini, semoga semua yang dijelaskan dalam makalah ini menjadi suatu tambahan referensi untuk materi mengenai ACFTA , semoga semua yang ditulis dalam penyusunan makalah ini bisa memberikan suatu manfaat kepada penulis dan kepada pembaca.
mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan dan pemaparan. Terima kasih

Daftar Pustaka
Heng Mung Kei, 2005. ASEAN – Cina Relations : Realities and Prospect, Pasir Panjang, Singapura, ISEAS Publications
Sumber Referensi :
http://www.scribd.com

http://titikdidih.blogspot.com/2010/01/dilema-indonesia-dalam-acfta.html

economy.okezone.com/…/acfta-berkah-atau-bencana-bagi-indonesia

http://persma.com/baca/2010/04/29/analisis-dampak-acfta-bagi-indonesia-peluang-atau-hambatan.html

http://turisinternet.com/apa-itu-acfta/

http://economy.okezone.com/read/2011/04/20/320/448260/inilah-langkah-pemerintah-antisipasi-dampak-acfta

http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2010/01/20/44913

http://www.setneg.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=4375&Itemid=29

http://www.solopos.com/2010/channel/nasional/dampak-acfta-40000-buruh-di-jabar-terancam-kena-phk-11220

http://www.solopos.com/2010/channel/nasional/dampak-acfta-40000-buruh-di-jabar-terancam-kena-phk-11220

http://dk-insufa.info/home/in/opini/376-indonesia-dalam-perangkap-acfta-

saya Fikri Mochammad, terima kasih

Standar

3 thoughts on “MAKALAH EKONOMI INTERNASIONAL/ INTERNATIONAL ECONOMIC

  1. It appears u actually understand very much related to this
    specific subject matter and it all shows by means of this specific blog
    post, titled “MAKALAH EKONOMI INTERNASIONAL/ INTERNATIONAL ECONOMIC | Fikri Putrahasan”.
    Regards -Ernie

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s